Thomas Djiwandono, Dengarkan Selalu Suara Hatimu!
Oleh: Agustinus Tetiro*
Menarik bahwa penetapan Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) terjadi satu hari sebelum dunia filsafat dan teologi Katolik merayakan hari yang dipersembahkan khusus bagi Santo Thomas Aquinas. Penetapan Thomas Djiwandono oleh DPR dilakukan pada rapat paripurna ke-12 pada Selasa (27/01/2026).
Terlahir dari keluarga Katolik, Deputi Gubernur BI kita yang baru ini memiliki nama orang kudus pelindung Thomas Aquinas (wafat 1271), yang dikenal luas sebagai imam, biarawan, filsuf dan teolog Katolik. Pada hampir semua keluarga Katolik, riwayat biografis dan pengaruh orang kudus pelindung biasanya diperkenalkan kepada sang anak. Pada gilirannya nanti, sang anak akan mencari tahu sendiri siapa, bagaimana dan apa saja inspirasi hidup yang bisa digali dari sang orang kudus pelindung.
Saya menduga, Thomas Djiwandono pasti melalui tahap itu dan mengerti dengan baik kisah hidup Santo Thomas Aquinas, penulis buku babon Summa Theologiae. Thomas Aquinas dijuluki sebagai doktor para malaikat (Doctor Angelicus), karena kepiawaiannya dalam memberikan pengajaran mulai dari konsep tentang Tuhan dan Kebenaran hingga rasa malu pada manusia, dari pemikiran tentang hidup bersama, hingga tata kelola keuangan komunitas dan negara, dan lain-lain.
Memperhatikan riwayat hidup singkat Thomas Djiwandono yang menyelesaikan SMA di Kolese Kanisius Jakarta dan studi Sejarah di Haverford College, Amerika Serikat (AS), saya memberanikan diri untuk menduga-duga tentang bagaimana riwayat hidup Thomas Aquinas dipahami dan diinternalisasi. Bagaimanapun, usia remaja adalah masa pencarian diri. Kolese Kanisius yang menghidupi tradisi pendidikan Jesuit tahu betul referensi bacaan-bacaan bagi para peserta didiknya.
Pilihan pada studi sejarah juga menarik untuk diperhatikan. Bagi orang yang tekun pada dunia filsafat dan ilmu Sejarah, kedua rumpun ilmu ini saling berkaitan. Filsafat adalah sejarah dengan penekanan pada saling silang pemikiran-pemikiran. Sementara, Sejarah adalah filsafat dengan contoh-contoh.
Kita kembali kepada introduksi amat singkat tentang Santo Thomas Aquinas bagi para remaja (Katolik). Santo Thomas mengajarkan bahwa manusia akan berbahagia jika bisa memandang Tuhan. Memandang Tuhan (visio beatifica) itu tentu saja tidak bisa dilakukan manusia di dunia. Akan tetapi, manusia di dunia bisa mendekati-Nya. Melalui apa?
Lewat akal budi (intellectus) yang terbuka. Akal budi manusia bisa memahami Allah, karena Allah juga membuka diri kepada manusia dengan Rahmat-Nya.
Akal budi manusia adalah padanan kebebasan. Kebebasan manusia dan kehendaknya mengarahkan manusia kepada yang baik. Dengan pendasaran itu, imperatif moral dari Santo Thomas Aquinas jelas: “Lakukanlah yang baik, elakkanlah yang jahat!” (Bonum est faciendum et prosequendum, et malum vitandum!)
Bagi Thomas Aquinas, kemantapan sikap batin untuk selalu melakukan yang baik dan senantiasa mengelakkan yang jahat adalah keutamaan (virtus). Sampai di sini, kita bisa bertanya, yang baik dan yang jahat itu bagaimana panduannya?
Thomas mengajarkan dan mensistematisasi Hukum Kodrat, sesuatu yang dipelajarinya secara amat tekun dari kaum Stoa, khususnya Cicero, dan Santo Agustinus. “Hiduplah sesuai kodratmu!”, demikian gagasan dasarnya.
Hukum Kodrat hadir dalam dua bentuk. Pertama, hukum alam bagi semua makhluk bukan manusia: lahir, tumbuh, berkembang, mati menurut hukum alam masing-masing. Kedua, hukum kodrat pada manusia yang merupakan makhluk berakal budi dan makhluk rohani.
Manusia, karena akal budi dan kehendak bebasnya, bisa menyeleweng dari kodratnya. Manusia tahu dan paham tentang apa yang baik, tetapi melakukan yang baik adalah suatu pilihan bebas.
Thomas membedakan antara tindakan manusia (actus hominis) dan tindakan manusiawi (actus humanus). Tindakan manusia tidak khas manusia, ada juga pada binatang: bernapas, bertumbuh, buang hajat, dan lain-lain sebagai makhluk hidup.
Tindakan manusiawi mempunyai bobot moral yang tidak ada pada makhluk lain, karena dikuasai penuh oleh pertimbangan akal budi dan moral manusia dalam kebebasan. Dengan demikian, tindakan manusiawi menuntut tanggung jawab.
Manusia diminta dan terarah untuk selalu bijaksana. Bagi Thomas yang mengamini bahwa kebenaran selalu ada di tengah (veritas semper in medio): kebijaksanaan selalu ada di tengah antara ketololan di satu ekstreme dan sikap terlampau berhati-hati di ekstreme lainnya.
Melakukan yang baik dan mengelakkan yang jahat!, Keutamaan, dan Kebijaksanaan yang diajarkan Santo Thomas Aquinas ini membawa kita pada peran suara hati (conscientia), yang dibedakan dari Hati Nurani (Synteresis). Guru besar filsafat Romo Magnis Suseno SJ membantu kita memahami keduanya: “Synteresis adalah pengetahuan intuitif tentang prinsip-prinsip moral, sedangkan conscientia adalah penerapan prinsip-prinsip itu pada kasus konkret” (1997:91)
Hati Nurani berasal dari Allah Sang Kebenaran dan oleh karena itu tidak dapat keliru. Suara hati yang ada pada manusia adalah penerapan dan konkretisasi Hati Nurani dalam konteks-konteks spesifik. Karena manusia belum sempurna penuh tetapi bisa terarah kepada kesempurnaan, suara hati bisa saja benar tetapi juga bisa tidak tepat memahami Hati Nurani. Suara hati bisa keliru!
Meskipun begitu, peran suara hati tetap amat penting, karena suara hati adalah satu-satunya norma paling akhir yang harus diikuti manusia!
*****
Sejak awal suksesi jadi petinggi BI, Thomas Djiwandono selalu dihubung-hubungkan dengan kekuasaan Presiden Prabowo Subianto. Hal ini tidak bisa dielakkan.
Kendati demikian, publik menaruh harapan besar pada figur Thomas Djiwandono sebagai pribadi otonom. Datang dari keluarga yang telah familiar dengan Bank Indonesia dan sejumlah pengalamannya sebagai praktisi bisnis, pegiat politik, wakil menteri keuangan serta basis pendidikan dan pengalaman kerjanya yang tidak selalu linear kiranya turut memperkaya dirinya dalam menghidupi dengan jiwa peran Bank Indonesia melalui bauran kebijakan.
Di hadapan publik, Thomas Djiwandono memastikan akan menjaga independensi BI dan menjaga Rupiah. Di dalam hatinya, kalau saya sebagai sesama alumnus sekolah Katolik dan warga bangsa boleh kembali mengingatkan saudara Djiwandono: Thomas, dengarkanlah selalu suara hatimu!
Selamat mengemban tugas sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia!
*) Penulis adalah Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) dan Pengajar Filsafat Ekonomi di Unika Atma Jaya Jakarta

