Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir
  • Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran
  • Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet
  • Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?
  • Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah
  • BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal
  • Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli
  • Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Energi & Tambang»Core Indonesia Ajukan Lima Rekomendasi untuk Jaga Kedaulatan Mineral Nasional

Core Indonesia Ajukan Lima Rekomendasi untuk Jaga Kedaulatan Mineral Nasional

Energi & Tambang Gusti Tetiro21 Januari 2026 / 09:35 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) – Center of Reform on Economics (Core) Indonesia mengajukan lima rekomendasi strategis kepada pemerintah untuk menjaga kedaulatan mineral nasional di tengah meningkatnya kepentingan Amerika Serikat terhadap mineral kritis global, termasuk yang dimiliki Indonesia.

Core menilai dinamika geopolitik global, termasuk penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada 3 Januari 2026, tidak terlepas dari agenda jangka panjang Amerika Serikat dalam mengamankan pasokan energi dan mineral kritis dunia. Indonesia, sebagai salah satu negara dengan cadangan mineral strategis terbesar, dinilai berpotensi menjadi sasaran kepentingan serupa.

“Amerika Serikat juga tengah menyasar negara-negara yang memiliki cadangan mineral kritis, termasuk Indonesia. Karena itu, tidak mengherankan jika akses terhadap mineral kritis menjadi salah satu poin kunci dalam negosiasi tarif resiprokal antara AS dan Indonesia,” tulis Yusuf Rendy Manilet, Azhar Syahida, dan Eliza Mardian dari Core Indonesia dalam rilis resmi yang diterima tutur.co.id, Rabu (21/1/2026).

Namun, Core Indonesia menegaskan bahwa pemberian akses terhadap mineral kritis tidak boleh berhenti pada ekspor bahan mentah. Menurut mereka, akses tersebut harus disertai komitmen kuat dari Amerika Serikat untuk menanamkan investasi di sektor pengolahan dan hilirisasi mineral di dalam negeri.

Tim Core Indonesia menyoroti paradoks hilirisasi yang terjadi saat ini. Meski nilai tambah meningkat, kepemilikan domestik justru menurun signifikan, dari 80–90% di sektor tambang menjadi sekitar 10% di smelter dan hanya 30% di industri baterai. Kondisi ini dinilai mencerminkan hilirisasi tanpa kedaulatan industri.

Selain itu, Core juga meminta pemerintah menegosiasikan ulang daftar produk yang memperoleh pembebasan tarif resiprokal. Fokus perlu diarahkan pada produk unggulan Indonesia seperti tekstil, alas kaki, dan elektronik, yang selama ini sangat bergantung pada pasar Amerika Serikat.

Baca Juga  CORE Proyeksi Inflasi Maret 3,5%, Lebaran dan BBM Jadi Pendorong Kenaikan Bulanan

Untuk menjaga kedaulatan mineral sekaligus kepentingan industri nasional, Core Indonesia mengajukan lima rekomendasi utama.

Pertama, pemerintah diminta memperluas cakupan negosiasi dalam skema Limited Free Trade Agreement (FTA) dengan Amerika Serikat. Negosiasi tidak hanya difokuskan pada mineral kritis, tetapi juga harus mencakup revitalisasi akses pasar bagi produk ekspor tradisional Indonesia, khususnya sektor manufaktur padat karya. Core menekankan pentingnya menuntut tarif 0% bagi produk-produk tersebut sebagai bentuk timbal balik atas akses mineral kritis.

Kedua, setiap kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat perlu segera disahkan dalam bentuk Bilateral Agreement yang mengikat secara hukum, baik nasional maupun internasional. Langkah ini dinilai krusial untuk mengunci posisi tawar Indonesia dan mencegah negara mitra lain menuntut konsesi serupa tanpa komitmen investasi yang setara.

Ketiga, Core mendorong reformasi kelembagaan melalui pembentukan Single Point of Accountability. Otoritas tunggal ini diperlukan untuk menjamin kepastian hukum dan menarik diversifikasi investasi, khususnya dari negara mitra AS seperti Korea Selatan dan Jepang, guna menyeimbangkan dominasi modal Tiongkok di sektor smelter domestik.

Keempat, pemberian akses mineral kritis kepada mitra global tidak boleh menjadi langkah mundur menuju era ekstraksi mentah. Core menegaskan bahwa akses terhadap lahan dan cadangan mineral harus dibayar dengan kewajiban pembangunan smelter dan pabrik manufaktur bernilai tambah tinggi di dalam negeri.

“Belajar dari pengalaman panjang dengan Freeport, Indonesia harus tegas: akses terhadap mineral harus berbanding lurus dengan kewajiban industrialisasi,” tegas tim Core Indonesia.

Kelima, pemerintah diminta menerapkan kebijakan tarif ekspor yang diskriminatif secara positif. Core merekomendasikan tarif ekspor tinggi untuk bahan mentah dan produk olahan primer, sementara produk manufaktur lanjutan dikenakan tarif rendah atau nol. Kebijakan ini bertujuan memastikan nilai ekonomi terbesar tetap berada di dalam negeri sekaligus mendorong investor membangun struktur industri hingga ke produk akhir.

Baca Juga  Wadirut Pertamina Tinjau Kilang Balongan, Tekankan Sinergi One Pertamina dan HSSE

“Pada saat yang sama, pemerintah perlu terus memperbaiki dan mengefisienkan iklim investasi nasional agar industrialisasi bernilai tambah dapat berjalan optimal,” pungkas tim penulis Core Indonesia.

CORE CORE Indonesia Mineral Kritis
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleGanti Kopi untuk Energi Pagi dengan Seduhan Herbal Ini
Next Article Persis Solo Pinjam Yabes Roni dari Bali United HIngga Akhir Musim

Berita Lainnya

BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal

18 Juli 2026 / 12:45 WIB

Elnusa Petrofin Perkuat Distribusi BBM, Penyaluran di Sumatra Utara Berangsur Normal

17 Juli 2026 / 22:42 WIB

Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Bantah Isu Transporter Mogok Salurkan BBM

17 Juli 2026 / 17:49 WIB

Distribusi BBM Sumatera Utara Pulih, Antrean Menyusut dan Pasokan Aman Sentosa

17 Juli 2026 / 17:23 WIB

BBM Langka di Sumatera Utara, Komisi XII DPR RI Desak Pertamina Gerak Cepat

17 Juli 2026 / 15:48 WIB

Skema Ketat di Balik Solar Murah Kapal 30-200 GT

17 Juli 2026 / 15:34 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Carrick Tegaskan MU Siap Hadapi Tekanan Liga Champions

Deba Salamah15 Maret 2026 / 06:15 WIB

Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir

18 Juli 2026 / 15:06 WIB

Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran

18 Juli 2026 / 14:58 WIB

Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet

18 Juli 2026 / 14:19 WIB

Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?

18 Juli 2026 / 13:30 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.