Teheran (Tutur.co.id) – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Rabu (22/7/2026) mengklaim telah melancarkan serangan terhadap dua pangkalan militer AS di Yordania sebagai balasan atas serangan Washington terhadap Iran.
Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut serangan rudal dan pesawat nirawak tersebut berhasil merusak sejumlah fasilitas militer, termasuk hanggar perawatan pesawat tempur, serta menghancurkan beberapa aset udara milik Amerika Serikat.
“Pada tahap pertama operasi balasan, serangan rudal dan pesawat nirawak terhadap Pangkalan King Faisal dan Prince Hassan di Yordania telah merusak hanggar perawatan pesawat tempur F-15,” demikian pernyataan IRGC.
IRGC juga mengklaim sebuah hanggar yang digunakan untuk persiapan pesawat nirawak hancur akibat serangan tersebut. Selain itu, delapan drone MQ-9 disebut hancur total, sementara dua unit lainnya mengalami kerusakan parah.
Tak hanya itu, Iran mengaku berhasil merusak dua helikopter militer AS dan menyerang pusat penempatan personel militer, yang menurut mereka mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Hingga saat ini, klaim tersebut belum mendapat konfirmasi independen maupun tanggapan resmi dari pihak Amerika Serikat.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat meski kedua negara sebelumnya sempat mencapai kesepakatan. Pada malam sebelum 18 Juni, Teheran dan Washington menandatangani sebuah memorandum yang bertujuan mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari.
Namun, situasi kembali memburuk setelah pada 8 Juli pasukan AS melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut merupakan respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah, sehingga memperburuk eskalasi konflik di kawasan.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran sudah tidak lagi berlaku. Pernyataan tersebut semakin memperkuat indikasi bahwa hubungan kedua negara kembali memasuki fase konfrontasi terbuka.

