Jakarta (tutur.co.id) — Nama Warren Buffett hampir selalu menjadi rujukan ketika membahas strategi investasi jangka panjang. Dijuluki “Oracle of Omaha”, Buffett membangun reputasi sebagai salah satu investor paling sukses dalam sejarah dengan kekayaan bersih yang kini mendekati US$150 miliar atau sekitar Rp2.691 triliun.
Melalui Berkshire Hathaway, Buffett membuktikan bahwa kesabaran, disiplin, dan fokus pada nilai fundamental perusahaan mampu menghasilkan keuntungan yang konsisten selama puluhan tahun. Filosofi tersebut hingga kini masih menjadi acuan investor institusi maupun ritel di berbagai belahan dunia.
Salah satu yang mengaku banyak belajar dari Buffett adalah Chris Ballard, Managing Partner Check Capital Management. Bahkan, Berkshire Hathaway menjadi salah satu kepemilikan terbesar dalam portofolio perusahaan yang dikelolanya.
Dikutip dari MoneyLion, Sabtu (18/7/2026), berikut empat pelajaran investasi Warren Buffett yang dinilai tetap relevan di tengah pasar keuangan yang semakin dinamis.
1. Jangan Berinvestasi karena FOMO
Salah satu ciri khas Warren Buffett adalah tidak pernah membeli saham hanya karena sedang menjadi tren atau ramai diperbincangkan.
Menurut Ballard, Buffett selalu memandang investasi layaknya membeli sebuah bisnis, bukan sekadar mengejar kenaikan harga saham dalam jangka pendek.
“Buffett berinvestasi dengan pola pikir sebagai seorang pemilik perusahaan,” ujarnya.
Karena itu, investor sebaiknya tidak mudah terpengaruh oleh euforia media sosial, rekomendasi sesaat, maupun fluktuasi harga harian. Pergerakan harga dalam jangka pendek sering kali tidak mencerminkan kualitas fundamental perusahaan.
2. Diversifikasi Tetap Penting
Pelajaran berikutnya adalah pentingnya membangun portofolio yang terdiversifikasi.
Ballard menjelaskan, Berkshire Hathaway menjadi contoh bagaimana diversifikasi mampu menciptakan bisnis yang tangguh menghadapi berbagai siklus ekonomi. Konglomerasi tersebut memiliki sumber pendapatan dari berbagai sektor, mulai dari asuransi, energi, perkeretaapian, manufaktur, ritel, hingga makanan dan minuman.
Dengan portofolio yang tersebar di banyak industri, risiko investasi menjadi lebih terkendali dibandingkan hanya bergantung pada satu sektor.
3. Pilih Perusahaan Berkualitas
Buffett selalu menekankan pentingnya membeli saham perusahaan yang memiliki model bisnis kuat, manajemen yang kredibel, dan keunggulan kompetitif berkelanjutan.
Menurut Ballard, perusahaan yang memiliki reputasi baik justru menjadi peluang menarik ketika harga sahamnya terkoreksi karena faktor pasar.
Investor yang memahami fundamental perusahaan tidak akan mudah panik saat harga turun. Sebaliknya, kondisi tersebut bisa menjadi kesempatan untuk menambah kepemilikan dengan valuasi yang lebih menarik.
4. Berpikir Sebelum Mengambil Keputusan
Kesuksesan Buffett bukan berasal dari banyaknya transaksi, melainkan dari sejumlah kecil keputusan investasi yang benar-benar berkualitas.
Ballard mengutip filosofi Buffett yang mengibaratkan investor hanya memiliki sekitar 10 kesempatan investasi sepanjang hidup. Dengan cara berpikir tersebut, setiap keputusan akan dipertimbangkan secara matang melalui riset yang mendalam, bukan didorong emosi.
Ia juga mengingat pesan mendiang Charlie Munger, mitra bisnis Buffett selama puluhan tahun.
“Ambil sebuah ide sederhana, lalu jalankan dengan penuh keseriusan.”
Value Investing Tetap Relevan
Buffett mulai membangun Berkshire Hathaway pada 1965, ketika perusahaan tersebut masih merupakan pabrik tekstil yang nyaris bangkrut. Bersama Charlie Munger, ia kemudian mengubahnya menjadi salah satu perusahaan investasi terbesar di dunia.
Kesuksesan Berkshire Hathaway bertumpu pada filosofi value investing, yakni membeli saham perusahaan berkualitas ketika diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya. Pendekatan ini juga menekankan pentingnya memilih perusahaan yang memiliki economic moat atau keunggulan kompetitif yang sulit ditiru pesaing.
Di tengah maraknya perdagangan algoritmik, investasi berbasis kecerdasan buatan, hingga spekulasi aset digital, prinsip-prinsip yang dipegang Buffett tetap relevan. Fokus pada fundamental, disiplin dalam mengambil keputusan, serta kesabaran berinvestasi masih menjadi fondasi utama untuk membangun kekayaan dalam jangka panjang.

