Jakarta (tutur.co.id) — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM) industri sebagai fondasi menuju Indonesia sebagai negara industri maju. Upaya tersebut dilakukan melalui pendidikan vokasi di SMK-SMAK dan SMK-SMTI yang dirancang sesuai kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan pendidikan vokasi merupakan investasi strategis untuk mencetak tenaga kerja terampil yang akan menjadi penggerak utama transformasi industri nasional, khususnya dalam mendukung agenda hilirisasi dan penguatan sektor manufaktur.
“Tidak ada hilirisasi tanpa laboratorium dan tidak ada laboratorium tanpa analis. Tidak ada pabrik yang berjalan tanpa teknisi yang terampil. Cita-cita besar menjadikan Indonesia sebagai pusat manufaktur dunia tidak diwujudkan di ruang rapat, tetapi di meja laboratorium dan di lantai produksi. Di sanalah para lulusan SMK-SMAK dan SMTI akan mengambil peran penting,” ujar Agus dalam keterangan tertulis, Kamis (16/7/2026).
Mengusung tema “Bersama Mencetak SDM Industri Unggul, Berdaya Saing Global dan Berkelanjutan”, Kemenperin pada tahun ini meluluskan 2.369 siswa dari sembilan SMK binaannya yang tersebar di berbagai daerah. Sekolah-sekolah tersebut memiliki spesialisasi berbeda, mulai dari kimia industri, permesinan, otomasi industri, hingga mekatronika, yang disesuaikan dengan kebutuhan sektor manufaktur di masing-masing wilayah.
Agus menilai keberhasilan program hilirisasi dan industrialisasi yang menjadi prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sangat bergantung pada ketersediaan SDM yang kompeten dan berintegritas.
“Keunggulan kompetensi harus dibarengi dengan kejujuran dan integritas. Hasil kerja seorang analis maupun teknisi akan dipercaya karena dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Menjaga integritas berarti menjaga mutu produk Indonesia, melindungi konsumen, sekaligus memperkuat daya saing industri nasional di pasar global,” katanya.
Untuk memastikan lulusan siap memasuki dunia kerja, Kemenperin menyelaraskan kurikulum dengan standar kompetensi industri, memperkuat praktik kerja industri melalui sistem ganda, mengembangkan teaching factory dan kelas industri, serta memberikan sertifikasi kompetensi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Doddy Rahadi mengungkapkan kualitas lulusan sekolah vokasi Kemenperin semakin diakui oleh kalangan industri. Hingga Juli 2026, sebanyak 1.483 lulusan atau 63,70% dari total lulusan telah berhasil terserap bekerja di berbagai perusahaan manufaktur.
“Capaian ini menunjukkan bahwa kompetensi lulusan SMK Kemenperin sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri,” ujar Doddy.
Para lulusan tersebut telah diterima bekerja di sejumlah perusahaan besar, antara lain PT Mayora Indah Tbk, PT Panasonic Gobel Energy Indonesia, PT Astra Daihatsu Motor, PT Toyota Boshoku Indonesia, PT Adhi Chandra Jaya, PT Sucofindo, PT LAPI Laboratories, serta PT Alamanda Global Health.
Bagi lulusan yang masih dalam proses mencari pekerjaan, BPSDMI bersama sekolah akan memberikan pendampingan selama tiga bulan. Jika dalam enam bulan belum memperoleh pekerjaan, mereka akan difasilitasi melalui program peningkatan kompetensi dan pemagangan agar peluang penempatan kerja semakin besar.
Minat masyarakat terhadap sekolah vokasi Kemenperin juga terus meningkat. Pada tahun ajaran 2026, rasio pendaftar terhadap daya tampung mencapai 1:12,2, naik dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 1:10,7. Artinya, setiap satu kursi diperebutkan oleh sekitar 12 calon peserta didik.
Ke depan, BPSDMI akan terus memperkuat pembinaan dan evaluasi terhadap penyelenggaraan pendidikan vokasi guna menjaga mutu pendidikan, meningkatkan tata kelola sekolah, serta memastikan setiap lulusan memiliki kompetensi yang adaptif dan sesuai dengan kebutuhan industri nasional.

