Inggris vs Argentina: Tentang Kemasyhuran, Misteri, dan Kefanaan
(40 Tahun Setelah Gol “Tangan Tuhan”)
Oleh Moh Samsul Arifin *)
SAYA tidak menonton Piala Dunia 1982 yang berlangsung di Spanyol. Dan saya tidak menyaksikan sepak terjang Diego Armando Maradona pada edisi itu. Bintang Argentina itu mengorbit lewat Piala Dunia U-20 di Jepang tahun 1979. Di level itu ia mengantarkan negaranya juara dunia U-20.
Pada 1982 pesawat televisi masih menjadi barang mahal di kampung saya di Jember, Jawa Timur. Cuma segelintir orang yang memiliki “kotak ajaib” televisi yang benar-benar berbentuk kotak itu. Namun, saya ingat, orang-orang di kampung, terutama yang suka sepak bola cerita tentang Paolo Rossi, jimat Italia, yang membawa negeri itu jawara Piala Dunia untuk kali ketiga di tanah Spanyol.
Berstatus juara bertahan, Argentina yang telah diperkuat Maradona, tersingkir oleh Brasil di putaran kedua. Bahkan waktu itu Maradona mendapat kartu merah. Petualangan si ‘boncel’ yang piawai menggocek bola terhenti. Masa emasnya ditunjukkan di Piala Dunia 1986 yang berlangsung di Meksiko. Ia adalah protagonis di balik kisah manis Argentina menjadi raja dunia di tahun itu. Dan ia juga yang membuat Inggris pulang kampung di babak perempat final ketika dua golnya mengoyak gawang Peter Shilton. Satu gol dilakukan dengan curang, mengangkangi sportivitas, dan menipu wasit. Dan satu gol lagi, dilakukan dengan solo run, menjadikan gol yang digiring Maradona sejak dari lapangan tengah itu menjadi gol terbaik abad 20.
Sejak 1986 itu, saya setia, mengagumi Maradona, dan mendukung Argentina. Sang dewa itu menangis di final Piala Dunia 1990 setelah upaya Argentina menahan Jerman Barat gagal. Penalti Andreas Brehme membuyarkan mimpi Maradona dan rakyat Argentina juara dunia back to back. Hanya delapan bulan setelah tembok Berlin runtuh–sebagai awal unifikasi Jerman Barat dan Jerman Timur–Lothar Matthaus dkk mengirim negerinya ke pucuk superioritas bola dunia. Masa menunggu selama 12 tahun dan masuk final tiga Piala Dunia (1982, 1986, 1990) terbayar.
Setelah 1994 itu, saya tidak terlalu terhubung dengan Argentina. Namun, saya ingat insiden David Beckham versus Diego Simeone saat Argentina berhadapan dengan Inggris di babak 16 besar Piala Dunia 1998 di Prancis. Beckham, gelandang pujaan Manchester United, Inggris, dan dunia sedang di level puncak. Dia punya tendangan gemulai dengan kaki kanan yang kuat—salah satu berkah untuk pemain Inggris yang hingga kini belum dimiliki pemain bola dari negeri Raja Charles III itu. Bila mengambil tendangan bebas, ia melakukannya bak penari. Indah, mempesona, dan sering jadi momok bagi kiper.
Laga itu bukan milik Beckham. Ia ‘dikerjai’ oleh gelandang perusak dari Tango, Diego Simeone. Ada momen keduanya duel dan Simeone menggunakan kesempatan itu untuk memberi keuntungan kepada timnya. Beckham diberi kartu merah sehingga diusir dari lapangan. Belakangan, Simeone, kini pelatih Atletico Madrid, tidak menyembunyikan kecurangannya. “Di atas lapangan, Anda terkadang harus cerdik atau berpura-pura bodoh. Beckham sebenarnya tidak melakukan sentuhan fatal, tetapi itulah seni memenangkan laga,” tukas Simeone.
Akhirnya Argentina di laga itu memang memenangkan laga via adu penalti. Apa yang dimaksud cerdik dan seni oleh Simeone itu tak lain adalah menisbikan sportivitas yang ingin dijunjung tinggi dalam sport atau olahraga, tidak terkecuali dalam sepak bola. Seperti Maradona, Simeone itu cerdik. Maradona secara langsung menyakiti Inggris dengan dua golnya. Sedangkan Simeone melukai “The Three Lions” secara tidak langsung, bak menyayat pelan-pelan hingga si korban terjengkang karena harus bermain dengan sepuluh orang.
Empat tahun berselang, Beckham menebus dosa. Di Sapporo Dome, Hokkaido, Jepang, laga Inggris vs Argentina tersaji di babak grup F Piala Dunia 2002. Beckham dkk berada dalam situasi harus memang kalau tidak mau angkat kaki lebih cepat. Pasukan Sven-Goran Eriksson itu bertemu hari baik. Inggris mendapat penalti akibat pelanggaran Mauricio Pochettino (pelatih AS di Piala Dunia 2026) kepada Michael Owen jelang akhir babak pertama (www.fifa.com).
Si pemilik tendangan gemulai maju. Ia menjadi algojo Inggris. Suporter Inggris dan pecandu bola dunia menarik nafas panjang, terlintas insiden pahit Beckham di Piala Dunia 1998. Kali ini Beckham tidak lagi jadi pecundang. Ia telah memiliki mental kokoh, dari petualangannya bersama Manchester United, yang sukses treble di musim 1998/1999–setahun setelah mimpi buruk di Prancis itu. Dan benar, tendangan Beckham tak mampu diredam kiper Tango, Pablo Cavallero. Gol tadi menjadi satu-satunya yang tercipta di laga itu. Diego Simeone yang di laga itu juga merumput untuk Argentina kali ini gantian menjadi pecundang. Kekalahan dari Inggris itu menjadi salah satu alasan Argentina terkapar di babak grup Piala Dunia yang berlangsung di Korea Selatan dan Jepang itu.
Inggris melaju, tapi hanya sampai perempat final. Tim “Samba” Brasil menyikut Inggris, 2-1, lewat gol tendangan bebas Ronaldinho yang ikonik ke gawang David Seaman. Kiper asal Arsenal kurang-kurang hati dalam menempatkan bola Ketika Ronaldinho mengambil tendangan. Ia terlalu maju. Ronaldinho melihatnya sehingga mengirim bola melengkung ke tiang jauh tanpa bisa diselamatkan oleh Seamen. Beckham harus menerima takdir—ia cuma juara di level klub, tapi nol besar di level negara. Dan sejak 1966 sampai 2024, Inggris tidak pernah juara Piala Dunia serta Piala Eropa (Euro).
Peluang di masa Gary Lineker dkk di tahun 1990 digagalkan Jerman Barat via adu penalti di semifinal. Duapuluh delapan tahun kemudian, Inggris Kembali melaju ke semifinal Piala Dunia 2018 yang berlangsung di Rusia. Tapi, ikhtiar Harry Kane dkk menggondol trofi Piala Dunia digagalkan oleh Kroasia. Selain sang kapten, Kane, saat ini masih ada jebolan Piala Dunia 2018 yang membela Inggris: Jordan Pickford (kiper), John Stone (pemain belakang), Jordan Henderson (gelandang), serta Marcus Rashford (pemain sayap).
Jika dibandingkan edisi 2022 (keok atas Prancis di perempat final), kiprah Inggris di semifinal tahun ini termasuk mentereng. Sudah puluhan tahun Inggris ingin “football’s coming home”. Pecandu bola di sana ingin sepak bola pulang ke rumah, sebuah klaim tentang asal-muasal sejarah sepak bola, juga sebuah harapan, dan mimpi yang tak sanggup digapai negara itu sejak 1966. Tahun ini berarti sudah 60 tahun tidak menjadi pemuncak sepak bola dunia. Dan tahun ini adalah tahun ke-40 sejak gol “Tangan Tuhan” menyudahi mimpi Inggris mendulang trofi Piala Dunia.
Di balik jersey Inggris ada mimpi, hasrat, dan trauma. Tiga hal itu terus melecut para pemain Inggris di pentas Piala Dunia. Inggris kali ini adalah tim sepak bola yang ditangani oleh pelatih asal Jerman, Thomas Tuchel. Ia terbilang mengerti pemain-pemain Inggris. Tuchel pernah menangani Chelsea dan mengantar klub itu juara Liga Champions 2020/2021. Dan Tuchel bisa diduga–dan diharapkan–dapat menyuntikkan semangat pantang menyerah ala Jerman. Sempat terganjal oleh Ghana di babak grup, Inggris melaju sebagai juara grup dengan membekuk Panama, 2-0. Kroasia pun diganyang 4-2 di laga pertama.
Mentalitas Inggris terasah di babak gugur. Sempat ketinggalan satu gol atas Republik Demokratik Kongo hingga menit ke-74, Inggris menunjukkan taringnya dengan dua gol Kane di menit 75 dan 86. Mereka lalu bertemu Meksiko di 16 besar. Ini laga tidak gampang karena berlangsung di Stadion Azteca, Mexico City. Ini kandang tidak ramah buat musuh-musuh Meksiko. Berada di ketinggian menjulang, serta dibayang-bayangi kekalahan atas Argentina di stadion itu tahun 1986, stadion ini ingin dihindari Inggris. Sekali lagi Inggris menunjukkan bahwa aspek mental telah diurus oleh Tuchel. Sempat unggul 2-0 oleh gol Jude Bellingham, Meksiko mengejar jadi 1-2. Inggris menceploskan gol ketiga via tendangan penalti Kane. Tapi, Meksiko emoh menyerah dan memperkecil skor menjadi 2-3 di menit 69.
Limabelas menit sebelumnya, Inggris harus bermain dengan sepuluh pemain karena bek kanannya, Jarell Quansah, diganjar kartu merah. The Three Lions tertekan. Alih-alih gugup, Marc Guehi dkk tenang dan kalem menghalau serangan Meksiko yang didukung suporter tuan rumah. Dalam 21 menit Inggris dikurung, tapi mampu mempertahankan keunggulan hingga peluit akhir laga ditiup wasit. Inggris melaju ke perempat final bertemu Norwegia.
Norwegia di perhelatan edisi ini bukan kumpulan pemain tak bertaring. Erling Haaland dkk maju ke delapan besar setelah membungkam Brasil 2-1 di babak 16 besar. Haaland adalah monster yang mengoyak gawang Brasil dengan sepasang gol. Di tangan Inggris, aksi “Viking Row” berakhir, tidak bisa lagi dipertontonkan ke miliaran mata penonton bola. Jude Bellingham menjadi pahlawan Inggris dengan sepasang gol. Tercecer satu gol, Inggris membalas menjelang akhir babak pertama. Di babak kedua laga tidak gampang. Inggris perlu extra time untuk mengunci laga di menit 93.
Semifinal kontra Argentina akan menguji kemampuan teknis, taktik, dan mental Inggris. Argentina adalah juara bertahan, satu-satunya wakil benua Amerika yang tersisa. Dan satu lagi, Argentina memiliki Lionel Messi yang memiliki sihir hingga usia 39 tahun. Minus laga versus Swiss, Messi selalu menciptakan gol. Jadi, dapat diukur potensi horor yang dapat diciptakan oleh Messi.
Skuad cadangan pun terbilang lengkap. Bahkan jika bek kanan Reece James dapat bermain, ia tidak bakal jadi anak bawang versus pemain Argentina. James memiliki atribut lengkap dalam bertahan, duel satu lawan satu, mengiris sayap, hingga memberi umpan dan mencetak gol. James lebih terasah Ketika Tuchel melatihnya di Chelsea. Dan pada debutnya di Piala Dunia sebagai pelatih, Tuchel saya bayangkan dapat meramu taktik jitu untuk meredam Messi dkk. Saya membayangkan ia seperti di final Liga Champions 2020/2021 manakala bikin klub yang diarsiteki Josep Guardiola, Manchester City, tidak berdaya menembus pertahanan rapat dalam skema 3-4-2-1. Dengan kualitas dan komposisi pemain lebih lengkap, toh City dijungkalkan tim racikan Tuchel, 0-1.
Mungkinkah Tuchel mampu?
Ia akan berhadapan dengan juru taktik Argentina, Lionel Scaloni yang telah mempersembahkan trofi Piala Dunia 2022 kepada negaranya. Sejauh ini Scaloni sukses, meski suara minor menyatakan Argentina dibantu undian. Argentina sejauh ini bertemu tim dengan kualitas di bawah; dari Aljazair, Austria, Yordania, Cape Varde, Mesir, dan Swiss. Kemenangan Argentina versus Mesir di 16 besar juga dipenuhi keputusan-keputusan wasit yang kontroversial: VAR digunakan, tapi dalam insiden lain absen mengintervensi laga.
Dulu, Carlos Bilardo gagal membawa Argentina juara back to back di Piala Dunia 1990. Sementara Franz Beckenbauer memang mengantar Jerman Barat di dua final, tapi hanya di tahun 1990, ia sukses mempersembahkan trofi Piala Dunia. Di masa kini, Didier Deschamps telah menyamai rekor Beckenbauer dengan menjadi juara Piala Dunia sewaktu menjadi kapten Prancis, tahun 1998, dan melatih Prancis tahun 2018. Namun, Deschamps gagal juara back to back, karena di tahun 2022, Argentina menggagalkan usaha Prancis via adu penalti di final dramatis dengan banyak gol.
Jangan bilang data ini tidak akan bicara dalam pertemuan Inggris versus Argentina dan cerita akhir Piala Dunia 2026.
Saya akan tambahkan satu data lagi: Sejak 1962, juara bertahan tak pernah sanggup mempertahankan trofi Piala Dunia. Dunia tahu, Pele muda telah menggondol Piala Dunia di kesempatan pertama bersama Brasil tahun 1958 di Swedia. Trofi itu lalu dipertahankan Brasil pada Piala Dunia 1962. Empat tahun kemudian, Inggris ke langit ketujuh setelah mengungguli Jerman Barat di final.
Ingat Piala Dunia adalah juga tentang kemasyhuran, misteri, dan kefanaan.
*) Pecinta Sepak Bola

