New York (Tutur.co.id) – Wacana penambahan jumlah peserta Piala Dunia 2030 menjadi 64 negara memicu perdebatan di dunia sepak bola. Setelah sukses menggelar Piala Dunia 2026 dengan format baru berisi 48 peserta, FIFA kini menghadapi usulan yang jauh lebih ambisius.
Di satu sisi, perluasan peserta dinilai dapat membuka kesempatan lebih besar bagi negara-negara berkembang. Namun di sisi lain, sejumlah konfederasi sepak bola terbesar di dunia menilai format tersebut berpotensi menimbulkan berbagai persoalan.
Usulan penambahan peserta menjadi 64 tim pertama kali diajukan secara resmi oleh Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (CONMEBOL) pada April 2025. Hingga kini, FIFA belum mengambil keputusan terkait proposal tersebut dan masih berada pada tahap pembahasan.
Piala Dunia 2030 sendiri akan menjadi edisi yang sangat istimewa karena menandai 100 tahun penyelenggaraan turnamen sepak bola terbesar di dunia.
Turnamen akan digelar di Spanyol, Portugal, dan Maroko sebagai tuan rumah utama, sementara Argentina, Uruguay, dan Paraguay dipercaya menggelar tiga pertandingan pembuka sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah lahirnya Piala Dunia pada 1930.
Tiga Konfederasi Besar Menolak Format 64 Tim
Meski FIFA membuka ruang diskusi terhadap usulan tersebut, gagasan memperluas jumlah peserta menjadi 64 negara justru mendapat penolakan dari sejumlah tokoh penting sepak bola dunia.
Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, menjadi salah satu pihak yang paling vokal menyuarakan penolakannya. Menurutnya, format 64 peserta bukanlah solusi yang tepat karena dapat mengurangi kualitas kompetisi sekaligus menyulitkan proses kualifikasi yang selama ini telah berjalan dengan baik.
Penolakan serupa disampaikan Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa. Ia menilai penambahan peserta secara berlebihan berisiko menciptakan persoalan baru dalam penyelenggaraan turnamen, mulai dari jadwal pertandingan hingga kualitas kompetisi.
Sementara itu, Presiden Concacaf, Victor Montagliani, juga menyampaikan pandangan yang sejalan. Menurutnya, format 64 tim berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem sepak bola internasional serta memperberat kalender kompetisi yang sudah sangat padat.
Gelombang penolakan dari tiga konfederasi besar tersebut menunjukkan bahwa usulan penambahan peserta Piala Dunia 2030 masih belum memperoleh dukungan luas di tingkat internasional. Karena itu, peluang proposal tersebut untuk segera disetujui dinilai masih cukup kecil.
FIFA Masih Mengkaji Seluruh Masukan
Di tengah perdebatan yang terus berkembang, FIFA memilih belum mengambil sikap resmi. Badan sepak bola dunia itu menegaskan akan mengkaji seluruh usulan bersama berbagai pemangku kepentingan sebelum menentukan keputusan akhir.
FIFA juga menegaskan bahwa sebagai organisasi global, mereka memiliki kewajiban untuk mempertimbangkan setiap proposal yang diajukan oleh anggota dewan. Setelah seluruh proses evaluasi selesai dilakukan, keputusan akhir akan ditetapkan melalui Dewan FIFA.
Hingga saat ini belum ada indikasi kapan keputusan tersebut akan diumumkan. Dengan masih kuatnya perbedaan pandangan antara pihak yang mendukung dan menolak, masa depan format Piala Dunia 2030 diperkirakan akan menjadi salah satu isu paling penting yang akan dibahas FIFA dalam beberapa tahun mendatang.

