Atlanta (Tutur.co.id) – Timnas Prancis semakin menegaskan statusnya sebagai salah satu favorit juara Piala Dunia 2026 setelah menyingkirkan Maroko dengan kemenangan meyakinkan 2-0 pada babak perempat final. Hasil tersebut mengantarkan Les Bleus ke semifinal untuk ketiga kalinya secara beruntun, sekaligus memperkuat kesan bahwa skuad asuhan Didier Deschamps sedang berada di puncak generasinya.
Secara statistik, Prancis tampil nyaris sempurna. Mereka jadi tim dengan produktivitas serangan terbaik di turnamen, memimpin dalam jumlah peluang yang diciptakan serta tembakan yang membentur mistar atau tiang gawang. Dari enam pertandingan, Les Bleus hanya kebobolan dua gol dan mencatatkan empat clean sheet.
Di atas kertas, sulit menemukan kelemahan dari tim yang dihuni pemain-pemain kelas dunia tersebut. Namun, di balik dominasi itu, masih ada beberapa celah yang berpotensi dimanfaatkan lawan, terutama jika mereka harus menghadapi Spanyol atau Belgia di semifinal.
Sisi Kiri Pertahanan Jadi Titik yang Bisa Diserang
Salah satu area yang dinilai paling rentan adalah sektor kiri pertahanan Prancis. Sejak awal turnamen, posisi bek kiri mengalami perubahan. Theo Hernandez, yang semula menjadi pilihan utama, kehilangan tempatnya setelah tampil kurang meyakinkan. Perannya kemudian diambil oleh Lucas Digne, yang dinilai lebih disiplin dalam bertahan.
Meski lebih stabil dibanding Hernandez, Digne tetap memiliki beberapa keterbatasan. Bek Aston Villa tersebut tidak memiliki kekuatan fisik maupun dominasi duel seperti Jules Kounde di sisi kanan pertahanan. Dalam situasi satu lawan satu, terutama menghadapi winger yang cepat dan agresif, Digne dinilai masih bisa dieksploitasi.
Selain itu, sektor tersebut juga tidak selalu mendapatkan perlindungan maksimal karena di depannya terdapat Kylian Mbappe dan Desire Doue, dua pemain yang lebih berorientasi menyerang daripada bertahan.
Walaupun Adrien Rabiot sering turun membantu menutup ruang dan William Saliba kerap memberikan perlindungan tambahan, sisi kiri pertahanan Prancis tetap dianggap sebagai area yang paling mungkin ditembus.
Belum Ada Lawan yang Benar-Benar Menguji Digne
Menariknya, hingga kini belum ada tim yang benar-benar mampu memanfaatkan kelemahan tersebut. Senegal menjadi lawan yang paling merepotkan Prancis pada laga pembuka. Mereka beberapa kali melancarkan serangan balik berbahaya melalui Nicolas Jackson dan Ismaila Sarr, bahkan gol hiburan Senegal juga lahir dari sektor kiri pertahanan Les Bleus.
Namun setelah itu, tidak ada lawan yang benar-benar memiliki kualitas maupun pendekatan permainan untuk terus menekan area tersebut. Swedia sempat memberikan ancaman melalui kecepatan Anthony Elanga pada babak 32 besar. Winger tersebut beberapa kali berhasil membawa bola dari sisi kanan serangan dan mencatatkan 19 kali progresi bola sepanjang pertandingan.
Akan tetapi, minimnya penguasaan bola Swedia membuat Elanga jarang mendapatkan situasi satu lawan satu yang ideal sehingga ancamannya tidak berkembang maksimal.
Sementara itu, Maroko memilih pendekatan berbeda. Brahim Diaz lebih sering bergerak ke tengah sebagai kreator permainan sehingga ruang yang ditinggalkan Achraf Hakimi di sisi kanan justru membuka peluang bagi Mbappe melakukan serangan balik. Akibatnya, kelemahan Digne kembali tidak benar-benar mendapat tekanan berarti.
Lamine Yamal Bisa Menjadi Ancaman Terbesar
Apabila Prancis menghadapi Spanyol di semifinal, kondisi tersebut berpotensi berubah. Di atas kertas, Lamine Yamal memiliki karakter permainan yang sangat cocok untuk menguji pertahanan kiri Prancis. Kecepatan, kemampuan menggiring bola, serta keberaniannya dalam duel satu lawan satu dapat menjadi ancaman terbesar yang belum pernah dihadapi Digne sepanjang turnamen.
Jika Spanyol mampu menciptakan situasi isolasi di sisi kanan serangan mereka, duel antara Yamal dan Digne bisa menjadi salah satu penentu hasil pertandingan.
Penguasaan Bola Lawan Bisa Mengganggu Prancis
Selain persoalan di sisi kiri pertahanan, Prancis juga belum benar-benar menghadapi tim yang mampu mendominasi penguasaan bola. Selama Piala Dunia 2026, Les Bleus lebih sering bermain menghadapi lawan yang memilih bertahan atau menunggu kesempatan melakukan serangan balik.
Sebaliknya, jika bertemu Spanyol, Prancis kemungkinan akan dipaksa bertahan lebih lama karena La Roja dikenal sangat dominan dalam mengontrol permainan melalui penguasaan bola. Dalam situasi tersebut, lini tengah Prancis berpotensi kalah jumlah sehingga ruang antarlini bisa terbuka lebih lebar.
Sepanjang turnamen, tim asuhan Didier Deschamps memang mengandalkan pressing tinggi yang sangat efektif. Dari lima pertandingan pertama, mereka mencatatkan delapan kali perebutan bola di area tinggi yang langsung berujung tembakan, termasuk menghasilkan dua gol.
Namun apabila lawan mampu keluar dari tekanan tersebut, ruang di antara lini pertahanan dan lini tengah Prancis terkadang terlihat cukup terbuka.
Belgia Punya Senjata Berbeda
Jika bukan Spanyol, lawan Prancis di semifinal bisa jadi adalah Belgia. Berbeda dengan La Roja yang mengandalkan penguasaan bola, Belgia memiliki kekuatan utama dalam intensitas pressing.
Menurut data Opta, Belgia menjadi tim dengan jumlah tekanan tertinggi di Piala Dunia 2026, yakni mencatatkan 41 tekanan tinggi, menghasilkan 15 peluang tembakan dari situasi tersebut, serta empat gol yang berasal dari keberhasilan merebut bola di area lawan. Model permainan seperti itu belum pernah benar-benar dihadapi Prancis sepanjang turnamen.
Tetap Favorit, tetapi Bukan Tak Terkalahkan
Meski memiliki beberapa potensi kelemahan, performa Prancis sejauh ini tetap luar biasa. Berdasarkan data Opta, tidak ada satu pun lawan di fase gugur yang mampu menghasilkan expected goals (xG) di atas 1,0 saat menghadapi Les Bleus.
- Swedia: 0,7 xG
- Paraguay: 0,2 xG
- Maroko: 0,1 xG
Statistik tersebut menunjukkan betapa solidnya organisasi permainan Prancis. Namun, semakin dekat menuju gelar juara, kualitas lawan tentu akan meningkat. Baik Spanyol dengan dominasi penguasaan bolanya maupun Belgia dengan pressing agresifnya memiliki karakter permainan yang berpotensi menguji sisi-sisi yang selama ini belum benar-benar tersentuh.

