Kabupaten Karawang (tutur.co.id) – Peluncuran mandatori Biodiesel B50 bukan sekadar pencapaian instan. Di balik sejarah baru kemandirian energi nasional ini, ada napas panjang transisi kebijakan yang melintasi tiga era kepemimpinan presiden Indonesia.
Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Prabowo menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari kontinuitas yang dijaga secara apik dari pemerintahan-pemerintahan sebelumnya.
Gagasan SBY, Dieksekusi Jokowi, Dituntaskan Prabowo
Prabowo mengibaratkan proyek strategis nasional ini seperti sebuah perlombaan lari estafet yang membutuhkan konsistensi tingkat tinggi. Gagasan besar ini rupanya sudah mulai dicanangkan hampir dua dekade lalu.
“Bayangkan dari 2008 ya, itu pemerintah SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Dilanjutkan selama pemerintah Jokowi (Joko Widodo). Di ujungnya saya teruskan. Ibarat ini adalah estafet,” ujar Presiden Prabowo di depan para undangan.
Perjalanan panjang dari B20, B30, hingga akhirnya resmi menyentuh angka B50 di tahun 2026 ini menjadi bukti nyata bahwa visi ketahanan energi tidak boleh mandek di tengah jalan hanya karena pergantian rezim.
Kemenangan Kolektif dan Kerja Tim
Bagi Prabowo, capaian B50 bukanlah panggung bagi satu orang atau satu kelompok saja. Ini adalah hasil dari teamwork berskala masif yang melibatkan lintas kementerian, lembaga, serta seluruh pemangku kepentingan di sektor energi dan industri kelapa sawit nasional.
“Kita saling bekerja sama, teamwork. Menteri ini punya jasa, itu punya jasa. Kita tidak mungkin mencapai B50 tanpa dukungan banyak pihak,” tutur Presiden mengapresiasi kerja keras seluruh elemen yang terlibat.
Sentilan Prabowo: Pembangunan Butuh Kontinuitas, Bukan Fitnah
Momen peluncuran ini juga dimanfaatkan Prabowo untuk memberikan pesan mendalam bagi iklim politik dan pembangunan di tanah air. Ia menekankan bahwa musuh utama dari kemajuan sebuah bangsa adalah ego sektoral dan kebiasaan meruntuhkan fondasi yang sudah dibangun oleh pemimpin terdahulu.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat dan tokoh politik untuk menyudahi budaya saling mencela. Menurutnya, menghargai kontribusi para pemimpin terdahulu adalah fondasi utama kemajuan nasional.
“Ada yang memilih jalan yang jahat, ada yang memilih jalan yang baik. Kita berada di jalan yang lurus, di atas jalan yang benar,” pungkas Prabowo menutup sambutannya dengan tegas.
Melalui komitmen B50 ini, pemerintah tidak hanya berhasil menekan ketergantungan pada impor bahan bakar minyak (BBM), tetapi juga mengirimkan pesan kuat ke dunia luar: bahwa Indonesia kini berada di jalur yang benar menuju kedaulatan energi yang berkelanjutan.
.

