New York (Tutur.co.id) – Polemik penangguhan hukuman Folarin Balogun terus memanas. Kali ini, UEFA melontarkan kritik keras terhadap keputusan FIFA yang mengizinkan penyerang tim nasional Amerika Serikat itu tetap bermain meski sebelumnya menerima kartu merah pada babak 32 besar Piala Dunia 2026.
Dalam pernyataan resminya yang dirilis Senin (6/7/2026), UEFA menilai keputusan tersebut berpotensi merusak integritas kompetisi karena mengabaikan kepastian penerapan aturan.
“Ketika kepastian aturan tidak lagi dijamin oleh para penjaganya, integritas permainan dipertaruhkan dan kredibilitas kompetisi dirusak,” tulis UEFA dalam pernyataan resminya.
Kontroversi bermula ketika Balogun menerima kartu merah saat AS mengalahkan Bosnia dan Herzegovina pada babak 32 besar. Berdasarkan regulasi yang berlaku, kartu merah tersebut seharusnya membuat Balogun menjalani skorsing otomatis satu pertandingan, sehingga ia tidak dapat tampil pada laga babak 16 besar melawan Belgia.
Namun, FIFA memutuskan untuk menangguhkan pelaksanaan hukuman tersebut, sehingga striker andalan AS tetap tersedia untuk dimainkan. Keputusan inilah yang kemudian memicu gelombang kritik dari berbagai pihak.
Dalam pernyataannya, UEFA menegaskan hukuman larangan bermain minimal satu pertandingan setelah menerima kartu merah merupakan aturan yang berlaku otomatis. Menurut UEFA, sanksi tersebut bukan keputusan yang bersifat diskresioner dan tidak membutuhkan persetujuan tambahan dari badan disiplin untuk diberlakukan.
Karena itu, UEFA menilai keputusan FIFA menyimpang dari prinsip dasar penegakan aturan dalam sepak bola. Badan sepak bola Eropa itu juga mengingatkan selama turnamen berlangsung, sejumlah pemain lain yang menerima kartu merah tetap menjalani hukuman sesuai regulasi tanpa pengecualian.
Jika satu kasus diperlakukan berbeda, UEFA menilai FIFA telah menciptakan preseden yang dapat memengaruhi penanganan kasus serupa pada masa mendatang.
UEFA menilai sepak bola bergantung pada aturan yang diterapkan secara konsisten demi menjaga persaingan yang adil, jujur, dan transparan. Meski mengakui bahwa beberapa regulasi dapat memiliki ruang interpretasi, UEFA menegaskan bahwa kasus Balogun bukan termasuk di dalamnya.
Menurut mereka, keputusan tersebut berpotensi mengurangi kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2026, mengingat turnamen tersebut merupakan kompetisi sepak bola paling bergengsi di dunia.
Di akhir pernyataannya, UEFA menyampaikan penolakan secara terbuka terhadap keputusan FIFA.
“Kami menyatakan ketidakpercayaan terhadap keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya, tidak dapat dipahami, dan tidak dapat dibenarkan ini,” tulis UEFA.
Kontroversi semakin berkembang setelah muncul laporan bahwa Presiden Donald Trump sempat berbicara dengan Presiden FIFA Gianni Infantino beberapa hari sebelum keputusan diumumkan. Menurut sejumlah laporan media internasional, percakapan tersebut membahas penangguhan hukuman Balogun.
Trump bahkan kemudian mengucapkan terima kasih kepada FIFA dan menyebut keputusan tersebut sebagai bentuk pembalikan atas “ketidakadilan besar”.
Meski demikian, FIFA sebelumnya telah menyatakan bahwa keputusan mengenai Balogun diambil oleh panel disiplin independen, serta menegaskan bahwa proses tersebut tidak dipengaruhi oleh pihak mana pun. Hingga kini, FIFA juga belum menjelaskan secara rinci alasan substantif yang menjadi dasar penangguhan hukuman Balogun.

