Jakarta (tutur.co.id) – Pernahkah kita bertanya-tanya, apa yang sebenarnya akan hilang dari hidup kita jika hutan-hutan di Indonesia lenyap? Bagi masyarakat urban, hutan mungkin hanya sekadar hamparan hijau nun jauh di sana yang jarang atau bahkan tidak pernah dikunjungi. Namun, bagi Farwiza Farhan (Wiza), Direktur Yayasan HAkA (Hutan Alam dan Lingkungan Aceh) sekaligus konservasionis asal Aceh, hutan adalah rumah, penopang hidup, dan sesuatu yang sangat layak diperjuangkan dengan darah dan air mata.
Dalam episode terbaru podcast Hijau-in bersama host Rike Amru, Wiza—yang tahun ini kembali dianugerahi penghargaan internasional bergengsi Whitley Gold Award—berbagi kisah emosional, kegundahan, hingga analogi menohok tentang realitas konservasi di Indonesia.
Bagi Wiza, kedekatannya dengan alam di masa kecil bukanlah hal yang istimewa. Tumbuh di Aceh, mencabut singkong untuk camilan sore atau memetik pandan dan sereh di halaman rumah adalah bagian dari keseharian normal anak kampung.
Namun pandangannya berubah saat ia mulai mengenal kehidupan urban. Banyak orang kota yang menganggap alam sebagai sesuatu yang asing. Wiza menceritakan kisah menggelitik sekaligus menyedihkan saat mengajak suaminya yang “orang kota banget” ke Leuser.
“Dia melihat sungai yang mengalir jernih aja bingung, sampai nanya, ‘Ini filternya di mana?’ Saya jawab, filternya hutan di hulu, sayang,” kenang Wiza sambil tertawa.
Ketertarikan Wiza pada dunia konservasi tumbuh secara bertahap. Dilarang menonton TV oleh orang tuanya kecuali dokumenter alam, ia sempat bermimpi menjadi marine biologist agar bisa bekerja di luar ruangan tanpa harus memakai seragam rapi. Namun takdir membawanya kembali ke tanah kelahirannya, Kawasan Ekosistem Leuser, sebuah lanskap luar biasa yang masuk dalam peringkat top 30 kawasan paling penting di dunia.
Ilusi Regulasi dan Paket “Pupuk Organik” Gajah Sumatra
Sebagai pendiri Yayasan HAkA (Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh), Wiza meluruskan miskonsepsi publik tentang pekerjaannya. Konservasionis bukan sekadar polisi hutan yang berpatroli, melainkan garda depan yang memperkuat kebijakan, melakukan lmonitoring satelit, dan memberdayakan masyarakat tapak.
Wiza menceritakan bagaimana fungsi ekologis sering kali kalah oleh ketamakan ekonomi, seperti jalur migrasi gajah yang diblok demi konsesi perkebunan atau tambang emas. Padahal, peran gajah tidak tergantikan. Banyak tumbuhan bergantung pada gajah untuk menyebarkan benih mereka dan karena gajah makan dalam jumlah besar, kotoran (pup) mereka melimpah dan berfungsi sebagai “paket tanaman siap tumbuh” yang sudah dilengkapi pupuk alami tanpa bahan kimia.
Tantangan terbesar justru datang dari legalitas abu-abu di lapangan. Wiza kerap menemukan kasus di mana pembukaan lahan ilegal di kawasan terlarang justru diputihkan dengan pemberian izin di kemudian hari.
“Ketika suatu perusahaan memegang izin, nggak berarti itu benar, bahkan kadang-kadang nggak berarti legal karena prosesnya tidak dilakukan dengan benar,” tegasnya.
Hutan sebagai “Sistem Imun” dan Analogi Migren Jakarta
Menjawab pertanyaan klasik masyarakat urban mengenai dampak rusaknya hutan bagi kehidupan kota, Wiza memberikan dua analogi yang sangat kuat:
Analogi Covid-19 dan Komorbiditas
Hutan adalah sistem imun bumi. Ketika Aceh atau Sumatra Utara dilanda banjir bandang hebat, curah hujan tinggi bukanlah satu-satunya kambing hitam. Curah hujan ekstrem hanyalah pemicu yang memperparah keadaan bumi yang sudah kehilangan “imunnya” akibat deforestasi—mirip seperti virus yang menyerang tubuh dengan penyakit bawaan (komorbid).
Analogi Sakit Kepala Sehari-hari
Masyarakat Jakarta yang menganggap banjir sebagai rutinitas biasa diibaratkan seperti orang yang menderita migren kronis setiap hari. Karena sudah terbiasa sakit kepala, mereka lupa rasanya hidup sehat tanpa rasa sakit. Kita baru akan menyadari betapa berharganya hutan ketika “sakit kepala” ekologis itu benar-benar hilang atau justru menjadi semakin parah.
Melawan Patriarki dan Kenangan Dibully
Menjadi perempuan di garis depan konservasi bukanlah perkara mudah. Sentimen seksis dan serangan personal masih menjadi makanan sehari-hari. Gerakan perempuan di tingkat tapak—misalnya saat melawan tambang emas—bahkan kerap coba dilemahkan melalui tekanan sosial kepada suami atau keluarga mereka. Oleh karena itu, Wiza menekankan pentingnya sisterhood (solidaritas antaperempuan) untuk meruntuhkan cara berpikir patriarkis yang terinternalisasi.
Ketika ditanya mengenai momen paling emosional yang membuatnya menangis hebat, Wiza mengenang masa awal kariernya di usia 20-an saat bekerja di sebuah lembaga pemerintah.
Saat itu, ia dikirim ke lapangan untuk memverifikasi kasus perusahaan sawit yang membakar lahan. Sepanjang perjalanan, ia menjadi satu-satunya perempuan yang dikelilingi pejabat laki-laki, menerima ejekan, dan dibully.
Puncaknya terjadi saat rapat penandatanganan laporan hasil verifikasi. Laporan tersebut telah dimanipulasi agar berbeda dengan fakta lapangan demi membela perusahaan tersebut.
“Saya menolak menandatangani laporan itu. Selama tiga jam saya diteriaki, dimarahi, dikata-katain. Di penghujung rapat, seorang bapak memukul meja dan memaksa saya tanda tangan. Saya tetap bertahan menolak. Rapat gagal, saya disepak keluar dari kantor, masuk mobil, dan nangis bercucuran air mata.”
Bagi Wiza, pengalaman pahit bak “dimangsa buaya” itulah yang membentuk mental bajanya dalam menghadapi berbagai tekanan politik dan korporasi di masa depan.
Jika Leuser Bisa Bicara
Di akhir percakapan, Rike Amru melontarkan pertanyaan reflektif: Jika Leuser bisa bicara, apa yang akan ia sampaikan kepada manusia? Wiza menjawab dengan metafora yang menggetarkan hati.
“Pernahkah kalian berpikir seandainya di bawah Vatikan ada tambang emas, apakah kalian akan menggali Vatikan demi mendapatkan emas dari bawah katedral yang suci itu? Kenapa kalian tidak menghormati aku (Leuser) seperti kalian menghormati tempat-tempat kalian bersembahyang? Aku adalah monumen penting yang diciptakan Tuhan untuk kalian semua.”
Meskipun tantangan membentang luas, Wiza tetap menaruh optimisme besar pada Generasi Z. Menurutnya, anak muda zaman sekarang jauh lebih sadar lingkungan (“hijau”) karena mereka tahu bahwa dampak kerusakan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas masa kini yang harus mereka hadapi dalam jangka hidup mereka sendiri.
Buat Kawan Tutur dapat menyimak selengkapnya perbincangan menarik host Rike Amru dengan Farwiza Farhan di Tutur TV dalam podcast Hijau-in.

