Jakarta (tutur.co.id) – PT Pertamina (Persero) terus memperkuat pemberdayaan masyarakat rentan ekonomi melalui Program UMiMAX (Ultra Mikro Pertamina Aksi). Program ini memberikan bantuan sarana usaha, pelatihan, dan pendampingan kepada masyarakat, terutama korban pemutusan hubungan kerja (PHK), agar mampu membangun sumber penghasilan yang mandiri dan berkelanjutan. Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima redaksi Tutur, Jumat (3/7/2026).
Salah satu penerima manfaat, Rahmadi (30), berhasil bangkit setelah kehilangan pekerjaan. Sebagai kepala keluarga, ia memulai usaha warung kopi melalui dukungan UMiMAX. Kini usahanya berkembang dengan omzet sekitar Rp1,9 juta per minggu. “Alhamdulillah, setelah ikut Program UMiMAX saya memiliki penghasilan yang lebih stabil untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan bisa menjalani hidup dengan lebih tenang,” ujarnya.
Kisah serupa dialami Wiwik Utami (49). Setelah suaminya terkena PHK, ia memperoleh bantuan usaha Warmindo dari UMiMAX. Usahanya yang semula menghasilkan kurang dari Rp50 ribu per hari kini mampu memberikan keuntungan bersih sekitar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per minggu. Menurut Wiwik, tambahan penghasilan tersebut membuatnya dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan tidak lagi bergantung pada anak.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan UMiMAX merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam membantu masyarakat rentan ekonomi membangun maupun mengembangkan usaha ultra mikro. Sekitar 75 persen peserta program merupakan korban PHK, sedangkan sisanya berasal dari kelompok masyarakat prasejahtera, pekerja informal, dan guru kontrak. Program ini tidak hanya memberikan hibah sarana usaha, tetapi juga pembinaan dan penguatan kapasitas usaha.
Pertamina mencatat hasil positif dari program tersebut. Rata-rata peserta mampu membukukan omzet bulanan sekitar Rp30 juta, bahkan beberapa di antaranya memperoleh laba lebih dari Rp10 juta per bulan. Secara keseluruhan, total pendapatan peserta UMiMAX selama Januari hingga April 2026 mencapai Rp2,75 miliar dengan laba bersih sekitar Rp858 juta. Capaian tersebut menunjukkan usaha ultra mikro memiliki peluang besar untuk berkembang ketika mendapat dukungan yang tepat.

