New York (Tutur.co.id) – Piala Dunia 2026 akan dikenang sebagai salah satu turnamen paling menyakitkan dalam sejarah Timnas Iran. Team Melli bukan hanya gagal melaju ke babak 32 besar, tetapi juga harus menghadapi rangkaian peristiwa yang membuat perjalanan mereka dipenuhi drama sejak sebelum turnamen dimulai.
Mulai dari persoalan visa, perpindahan markas latihan secara mendadak, kontroversi keputusan Video Assistant Referee (VAR), hingga pupusnya harapan akibat gol pada menit ke-90+6 di pertandingan lain, semuanya menjadi bagian dari kisah pahit wakil Asia tersebut.
Harapan Iran sebenarnya masih hidup hingga detik-detik terakhir fase grup. Nasib mereka bergantung pada hasil pertandingan Grup J antara Aljazair dan Austria. Sesuai skenario yang dibutuhkan, Iran hanya memerlukan laga tersebut berakhir dengan kemenangan salah satu tim agar tetap bertahan di jalur delapan besar peringkat ketiga terbaik.
Mengantungkan Nasib dari Tim Lain
Harapan itu sempat terasa nyata ketika kapten Aljazair, Riyad Mahrez, mencetak gol pada menit ke-90+4 untuk membawa timnya unggul 3-2. Dalam situasi tersebut, Iran untuk sementara menggenggam tiket menuju babak 32 besar.
Namun, euforia itu hanya berlangsung sekejap. Dua menit kemudian, Austria menyamakan kedudukan melalui sundulan Sasa Kalajdzic pada menit ke-90+6. Skor 3-3 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan dan seketika mengubah nasib Team Melli. Hasil imbang membuat Aljazair mengoleksi empat poin sekaligus merebut slot yang sebelumnya masih berpotensi menjadi milik Iran.
Sebelum drama itu terjadi, peluang Iran memang sudah bergantung sepenuhnya pada hasil pertandingan lain. Team Melli membutuhkan setidaknya satu dari tiga skenario: Ghana mengalahkan Kroasia, Uzbekistan minimal bermain imbang melawan RD Kongo, atau laga Austria kontra Aljazair menghasilkan pemenang. Tidak satu pun dari ketiga skenario tersebut akhirnya terwujud.
Kontroversi VAR yang Mengubah Harapan
Drama Iran tidak hanya terjadi pada pertandingan lain. Pada laga terakhir fase grup melawan Mesir, Team Melli sempat merasa telah memastikan tiket ke babak gugur.
Shuja Khalilzadeh mencetak gol pada masa injury time yang langsung disambut selebrasi para pemain dan jutaan pendukung Iran. Gol tersebut diyakini menjadi penentu kemenangan sekaligus membuka jalan menuju fase gugur.
Namun, setelah dilakukan peninjauan melalui VAR, wasit menganulir gol tersebut karena posisi offside. Pertandingan akhirnya berakhir imbang 1-1. Mesir lolos sebagai runner-up grup, sedangkan Iran harus kembali berharap pada hasil pertandingan lain yang pada akhirnya juga tidak berpihak kepada mereka.
Keputusan VAR tersebut memicu perdebatan. Mantan penyerang Swedia, Zlatan Ibrahimović, yang bertugas sebagai analis Piala Dunia 2026 untuk Fox Sports, menilai momen tersebut menjadi salah satu contoh paling menyakitkan dalam penggunaan teknologi di sepak bola.
“Jutaan rakyat Iran sempat merayakan apa yang mereka yakini sebagai momen bersejarah bagi negaranya. Dalam hitungan detik, semuanya dibatalkan. Anda bukan hanya menganulir sebuah gol, tetapi juga merampas impian seluruh bangsa,” ujar Ibrahimović.
Masalah Sudah Dimulai Sebelum Turnamen
Bagi kubu Iran, penderitaan mereka tidak dimulai di lapangan, melainkan jauh sebelum pertandingan pertama dimainkan.
Ketegangan diplomatik antara Teheran dan Washington berdampak pada proses keberangkatan tim. Sejumlah staf pendukung terlambat memperoleh visa untuk memasuki Amerika Serikat, sementara Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, bersama beberapa staf lainnya tidak dapat memasuki wilayah AS.
Situasi tersebut memaksa Iran memindahkan kamp latihan dari Tucson, Arizona, ke Tijuana, Meksiko, hanya beberapa saat sebelum turnamen dimulai. Perubahan mendadak itu membuat staf pelatih harus merangkap berbagai tugas agar persiapan tim tetap berjalan.
Masalah kembali muncul ketika para pemain mendapat pemberitahuan mendadak untuk meninggalkan Amerika Serikat dan kembali ke Meksiko karena persoalan administrasi perjalanan. Keputusan yang datang tepat pada hari pertandingan itu disebut mengganggu fokus seluruh anggota tim.
Pelatih Amir Ghalenoei secara terbuka menyampaikan kekecewaannya. Menurutnya, berbagai kendala nonteknis membuat Iran berada dalam situasi yang tidak ideal sepanjang turnamen.
“Itulah mengapa saya berpikir kami adalah tim yang paling tertindas di Piala Dunia,” kata Ghalenoei.
Kapten sekaligus penyerang utama Mehdi Taremi juga mengungkapkan hal senada. Ia menyebut seluruh situasi yang dialami tim sebagai sebuah “bencana” karena para pemain harus menghadapi tekanan di luar lapangan ketika sedang berjuang di ajang sepak bola terbesar di dunia.
Taremi mengungkapkan bahwa Presiden FIFA, Gianni Infantino, bahkan sempat mendatangi ruang ganti Iran untuk mendiskusikan persoalan yang mereka hadapi.
“Dia pasti ingin mencoba membantu kami, tetapi ini juga tentang hal-hal lain. Semua orang tahu itu. Semuanya adalah bencana bagi kami,” ujar Taremi.
Kisah Paling Emosional di Piala Dunia 2026
Pada akhirnya, Iran harus mengakhiri Piala Dunia 2026 dengan tiga poin dari tiga hasil imbang dan gagal menembus babak 32 besar. Meski demikian, perjalanan Team Melli meninggalkan cerita yang jauh melampaui hasil di atas lapangan.
Rangkaian persoalan administratif, kontroversi VAR, hingga pupusnya harapan akibat gol pada menit ke-90+6 membuat turnamen ini dikenang sebagai salah satu kisah paling emosional sepanjang Piala Dunia 2026.
Bagi kubu Iran, berbagai peristiwa tersebut menghadirkan perasaan bahwa perjuangan mereka tidak hanya ditentukan oleh kualitas permainan di lapangan, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai kendala di luar sepak bola. Terlepas dari berbagai perdebatan yang muncul, kisah Team Melli akan tetap menjadi salah satu narasi paling dramatis dalam perjalanan Piala Dunia 2026.

