Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak fluktuatif pada perdagangan awal pekan ini, Senin (19/1/2026), dengan kecenderungan menguat terbatas di tengah beragam katalis global dan domestik. IHSG diproyeksikan bergerak pada kisaran batas bawah 8.970–9.003 dan batas atas 9.147–9.181.
Senior Market Chartist Mirrae Asset, M. Nafan Aji Gusta, menilai secara teknikal IHSG masih berada dalam tren naik (uptrend). Namun, posisi indeks yang telah mendekati area jenuh beli membuat pelaku pasar perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi koreksi jangka pendek.
“Akumulasikan saham-saham dengan prospek yang kuat. Fokus juga pada saham-saham yang masih undervalued dengan penerapan manajemen risiko yang efektif,” ujar Nafan.
Ia menjelaskan, indikator Relative Strength Index (RSI) saat ini sudah berada di area overbought, sehingga membuka peluang terjadinya aksi profit taking. Meski demikian, indikator lain masih menunjukkan sinyal positif. Stochastics K-D tercatat mengindikasikan momentum penguatan, sementara MA20 dan MA60 berada dalam kondisi positive crossover, yang menandakan tren menengah masih terjaga.
Dari sisi sentimen global, pelaku pasar mencermati rencana Amerika Serikat untuk memberlakukan tarif dagang sebesar 25% terhadap negara-negara yang tidak mendukung rencana pendudukan AS atas Greenland. Kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas pasar keuangan global, termasuk pasar saham domestik.
Sentimen tersebut tercermin dari pergerakan bursa AS yang ditutup melemah tipis pada perdagangan akhir pekan lalu. Pasar masih menanti reaksi lanjutan investor global terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (17/1/2026), yang menyebutkan rencana pengenaan tarif tambahan terhadap delapan negara Eropa anggota NATO yang menentang upaya pengambilalihan Greenland.
Tekanan di Wall Street terutama datang dari saham-saham teknologi dan raksasa korporasi, seperti Oracle yang turun 4,3%, Broadcom 4,2%, Arm Holdings 2,6%, serta Amazon 2,5%. Pelemahan juga terjadi pada Palantir (-3,5%), Intel (-2,8%), dan Salesforce (-2,7%), meskipun sebagian tertahan oleh penguatan saham AMD (+1,7%) dan Broadcom (+2,5%) pada sesi tertentu.
Dari kawasan Eropa, isu Greenland masih membayangi pergerakan pasar. Negara-negara anggota Uni Eropa dijadwalkan menggelar pertemuan darurat pada Minggu (18/1/2026) di London untuk membahas ancaman kebijakan tarif AS. Sebelumnya, Perdana Menteri Inggris dan Presiden Prancis secara terbuka mengecam rencana pengenaan tarif tambahan tersebut.
Sejalan dengan itu, indeks acuan Stoxx 600 pan-Eropa bergerak stagnan dan ditutup melemah tipis 0,03%, mencerminkan sikap wait and see investor terhadap perkembangan geopolitik.
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pekan ini. RDG BI dinantikan di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah serta ketidakpastian global yang masih berlanjut. Arah kebijakan suku bunga BI dinilai akan menjadi penentu utama sentimen pasar domestik dalam jangka pendek.
Dengan kombinasi sentimen tersebut, pelaku pasar diperkirakan tetap berhati-hati. Strategi selektif pada saham berfundamental kuat dan disiplin dalam pengelolaan risiko dinilai menjadi kunci untuk menghadapi potensi volatilitas IHSG pada awal pekan ini.

