Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak menguat secara terbatas pada perdagangan Senin (19/1/2026). Meski tren teknikal masih menunjukkan potensi lanjutan rebound, posisi indeks yang sudah berada di area relatif tinggi membuat pelaku pasar cenderung bersikap lebih selektif.
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai peluang penguatan IHSG masih terbuka dengan kecenderungan bergerak dalam fase konsolidasi positif. Menurutnya, selama tekanan jual masih terkendali, indeks berpotensi melanjutkan penguatan jangka pendek.
“Secara teknikal, IHSG masih memiliki peluang menguat menuju area resistance 9.085–9.100, dengan support berada di kisaran 9.040–9.054,” ujar Reza.
Ia menjelaskan, ketahanan IHSG di atas area support tersebut menjadi kunci untuk membuka ruang pengujian resistance dalam waktu dekat. Sentimen domestik, khususnya menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, dinilai masih memberi harapan bagi pasar. RDG BI disebut masih membuka peluang pelonggaran kebijakan suku bunga di awal 2026, meski ruangnya relatif terbatas.
Dari sisi eksternal, Reza menilai penguatan nilai tukar rupiah dapat menjadi penopang pergerakan indeks. Selain itu, keberlanjutan reli harga komoditas global, terutama emas, nikel, dan minyak, berpotensi menjadi katalis tambahan bagi pasar saham domestik pada awal pekan.
Namun demikian, Reza mengingatkan investor untuk tetap mencermati sejumlah risiko. Sensitivitas IHSG terhadap sentimen global masih cukup tinggi, seiring dinamika kebijakan moneter global dan isu geopolitik. Di tengah posisi indeks yang sudah mendekati area psikologis, potensi aksi taking profit juga dinilai dapat menahan laju penguatan.
“Dengan level IHSG yang relatif tinggi, potensi koreksi jangka pendek tetap perlu diantisipasi. Investor sebaiknya tidak agresif dan tetap memperhatikan manajemen risiko,” ujarnya.
Dari sisi sektoral, Reza melihat mulai adanya aliran dana masuk ke saham-saham perbankan besar atau Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Pergerakan tersebut dinilai sejalan dengan ekspektasi kebijakan BI yang lebih akomodatif. Selain perbankan, sektor berbasis komoditas, khususnya emas dan nikel, masih dinilai atraktif mengikuti tren kenaikan harga global yang berpotensi menjaga momentum penguatan saham-saham terkait.
Ke depan, Reza menyarankan investor untuk tetap selektif dengan fokus pada saham-saham berfundamental kuat yang didukung sentimen positif serta tren teknikal yang sehat. Strategi bertahap dan disiplin dalam pengelolaan risiko dinilai krusial di tengah potensi volatilitas jangka pendek pasar.

