Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak fluktuatif sepanjang pekan ini di tengah padatnya agenda ekonomi global, keputusan suku bunga sejumlah bank sentral utama dunia, hingga berbagai sentimen domestik yang menjadi perhatian investor.
Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak pada rentang support 6.000, pivot 6.100, dan resistance 6.200. Secara teknikal, indeks juga berpeluang menguji level moving average 20 hari (MA20) yang menjadi salah satu area penting bagi arah pergerakan pasar dalam jangka pendek.
“Dengan demikian, IHSG berpotensi bergerak pada support 5.900-6.000 dan resistance 6.150-6.200 pada pekan ini,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Senin (15/6/2026).
Pelaku pasar saat ini menaruh perhatian besar pada keputusan suku bunga sejumlah bank sentral dunia. Fokus utama investor tertuju pada hasil rapat Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan berlangsung pada 17 Juni 2026. Pertemuan tersebut menjadi sorotan karena merupakan rapat perdana di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh.
Selain The Fed, pasar juga akan mencermati keputusan kebijakan moneter dari Bank of Japan (BoJ), Reserve Bank of Australia (RBA), dan Bank of England (BoE). Keputusan-keputusan tersebut diperkirakan akan memengaruhi arus modal global, nilai tukar, serta sentimen terhadap aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari sisi geopolitik, perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran juga menjadi perhatian investor. Meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan damai antara kedua negara dinilai berpotensi memperbaiki prospek pasokan energi global dan menekan harga minyak dunia.
Menurut Phintraco Sekuritas, sinyal menuju kesepakatan tersebut telah mendorong harga minyak turun ke bawah US$90 per barel pada akhir pekan lalu. Penurunan harga minyak menjadi kabar positif bagi Indonesia karena dapat membantu mengurangi tekanan terhadap anggaran negara, khususnya terkait subsidi dan kompensasi energi.
Selain sentimen global, pasar juga mencermati sejumlah perkembangan domestik. Investor menunggu implementasi kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, penyesuaian target pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, serta hasil kajian aksesibilitas pasar Indonesia dalam Global Market Accessibility Review yang diterbitkan MSCI.
Tak hanya itu, pelaku pasar juga menantikan rebalancing indeks FTSE yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Juni 2026. Perubahan komposisi indeks global tersebut berpotensi memengaruhi arus dana asing ke pasar saham domestik.
Dari sisi kebijakan moneter dalam negeri, perhatian investor tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18 Juni 2026. Phintraco Sekuritas memperkirakan BI akan kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%.
Kenaikan BI Rate tersebut diperkirakan dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang masih menghadapi tekanan eksternal, sekaligus mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik di tengah ketidakpastian global.
Meski dihadapkan pada berbagai sentimen yang berpotensi memicu volatilitas pasar, Phintraco Sekuritas tetap melihat peluang pada sejumlah saham pilihan yang dinilai memiliki prospek menarik dalam jangka pendek.
Enam saham yang direkomendasikan untuk dicermati pekan ini adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR), PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA), dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA).
Saham-saham tersebut dinilai berpotensi memperoleh katalis positif dari kombinasi sentimen sektor komoditas, energi, hilirisasi, hingga prospek perbaikan likuiditas pasar apabila kondisi global bergerak lebih kondusif dalam beberapa pekan mendatang.
Dengan banyaknya agenda penting yang akan berlangsung dalam sepekan ke depan, investor disarankan tetap mencermati perkembangan kebijakan bank sentral global, arah pergerakan harga minyak dunia, stabilitas rupiah, serta dinamika arus dana asing yang berpotensi menentukan arah IHSG menuju level psikologis 6.200.

