Jakarta (tutur.co.id) – Nilai tukar rupiah di pasar spot menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Kamis 4 Juni 2026. Ini menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah.
Hingga pukul 11.00 WIB, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyentuh angka Rp18.028. Pelemahan tersebut terjadi di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya tekanan pasar keuangan global.
Pada pembukaan perdagangan, rupiah berada di level Rp17.983 per dolar AS atau melemah 0,09% dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.967 per dolar AS. Namun tekanan berlanjut sehingga pada pukul 11.00 WIB, tembus Rp18.028 per dolar AS sekaligus menjadi level terendah.
Sepanjang perdagangan pagi ini, dolar AS bergerak dalam rentang Rp17.937 hingga Rp18.028 per dolar AS.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang berlangsung bervariasi. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar setelah naik 0,32%, disusul peso Filipina 0,23% dan yen Jepang 0,11%. Sebaliknya, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah turun 0,24% terhadap dolar AS.
Hingga saat ini, Bank Indonesia (BI) menyatakan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global maupun domestik serta siap mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional.
Sebagai bagian dari upaya stabilisasi, sejak 2 Juni 2026 BI mulai memberlakukan ketentuan batas pembelian valuta asing terhadap rupiah tanpa underlying sebesar 25.000 dolar AS per pelaku per bulan.
Bank sentral juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Saat ini kerja sama LCT telah dijalin Indonesia dengan sejumlah negara mitra, antara lain China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memitigasi risiko volatilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global.

