Jakarta (tutur.co.id)- Rupiah semakin dibuat babak belur. Bahkan hingga Selasa 26 Mei 2026 pukul 18.00 WIB, nilai tukar rupiah telah menyentuh level Rp17.822 per dolar Amerika Serikat (AS) setelah ditutup hari ini di level 17.796 per dolar AS.
Dengan kata lain, rupiah tercatat terdepresi 52 poin atau 0,29 persen ke level Rp17.796 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan hari ini. Pelemahan ini melanjutkan tren sehari sebelumnya ketika rupiah juga turun 0,15 persen ke level Rp17.744 per dolar AS.
Rupanya pergerakan nilai tukar rupiah masih dibayangi kombinasi sentimen domestik dan global yang belum sepenuhnya kondusif bagi pasar keuangan Indonesia.
Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dinilai masih berasal dari faktor eksternal maupun domestik yang memengaruhi arus dana di pasar keuangan. Kondisi tersebut membuat rupiah masih kesulitan untuk kembali menguat dalam jangka pendek.
Berbeda dengan pergerakan rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru dibuka menguat pada perdagangan pagi ini. IHSG sempat melesat hingga menyentuh level tertinggi di 6.286,872 sebelum mulai mengalami profit taking setelah reli cepat di awal sesi.
Meski mengalami penurunan bertahap dari level tertinggi harian, IHSG masih bergerak di kisaran 6.234 atau menguat sekitar 0,45 persen. Pergerakan indeks juga masih ditopang dominasi saham yang berada di zona hijau.
Untuk menggambarkan perdagangan hari ini, tercatat 351 saham menguat, 235 saham melemah danĀ 145 saham stagnan. Dengan nilai transaki mencapai 7,27 miliar saham, frekuensi perdagangan sebanyak 535.000 kali dan nilai transaksi mencapai Rp4,11 triliun.
Aktivitas transaksi yang cukup ramai menunjukkan minat perdagangan di pasar saham masih terjaga meskipun rupiah bergerak melemah. Kondisi ini juga mencerminkan adanya perbedaan respons pasar saham dan pasar mata uang terhadap sentimen yang berkembang saat ini.

