Jakarta (tutur.co.id) — Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menilai kombinasi pertumbuhan ekonomi tinggi dan inflasi rendah yang dicapai Indonesia saat ini menjadi pencapaian langka di tengah tekanan global. Bahkan, menurut dia, kondisi tersebut memicu “kecemburuan” banyak negara lain.
Dalam seminar bertajuk ASEAN Regional Economic Outlook and Fiscal Policy di Jakarta, Senin (25/5/2026), Suahasil mengatakan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tumbuh solid sebesar 5,61%, dengan inflasi terjaga di level 2,4% dan defisit anggaran tetap terkendali pada kisaran 2,9%.
“Kombinasi pertumbuhan ekonomi 5,6% dengan inflasi 2,4% ini saya berani jamin menjadi sumber kecemburuan bagi banyak negara lain,” ujar Suahasil dalam keterangan resmi.
Menurut dia, capaian tersebut menjadi fondasi penting bagi pemerintahan Prabowo Subianto untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%. Target itu dinilai dapat dicapai melalui peningkatan produktivitas, percepatan pembangunan infrastruktur, serta penguatan kualitas sumber daya manusia guna menciptakan lapangan kerja yang lebih berkualitas.
Di sisi lain, Suahasil mengingatkan bahwa ketidakpastian global kini telah berubah menjadi tantangan permanen yang harus dihadapi negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Karena itu, stabilitas kawasan ASEAN tidak dapat diperoleh secara otomatis, melainkan harus dibangun melalui kolaborasi yang lebih erat antarnegara anggota.
“Ketidakpastian akan menjadi normal baru kita di masa depan. Jadi, stabilitas atau kepastian itu tidak diberikan begitu saja kepada kita. Itu harus dibangun oleh kita sendiri,” katanya.
Dalam paparannya, Suahasil menyoroti sejumlah risiko global yang terus membayangi perekonomian dunia, mulai dari perang dagang, fragmentasi perdagangan internasional, krisis iklim, hingga disrupsi teknologi seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Untuk menghadapi tantangan tersebut, ia mendorong ASEAN memperkuat perdagangan intra-kawasan, memangkas hambatan non-tarif, serta memperluas kerja sama di sektor ekonomi digital dan transisi hijau. Selain itu, kawasan juga dinilai perlu memperkuat kebijakan makroekonomi yang prudent, meningkatkan ketahanan pangan dan energi, serta mengoptimalkan kerja sama keuangan regional seperti Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM) dan skema local currency settlement.
Suahasil menegaskan ASEAN tidak boleh terjebak dalam rivalitas geopolitik global. Sebaliknya, kawasan harus tetap terbuka dan mampu merangkul seluruh kekuatan ekonomi dunia, termasuk Amerika Serikat, China, India, Uni Eropa, dan Jepang.
Ia juga menegaskan komitmen Kementerian Keuangan dalam memperkuat sinergi regional melalui kolaborasi riset bersama Dewan Ekonomi Nasional dan ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO). Menurut dia, riset kolaboratif menjadi instrumen penting untuk merumuskan kebijakan fiskal yang lebih responsif terhadap dinamika global.

