Jakarta (tutur.co.id) — Indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak fluktuatif pada perdagangan Rabu (20/5/2026), seiring pelaku pasar yang menanti pidato Presiden Prabowo Subianto dalam sidang paripurna DPR RI sebagai penentu arah sentimen pasar domestik.
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan perhatian investor saat ini tertuju pada arah kebijakan pemerintah di tengah tekanan besar terhadap pasar keuangan nasional.
“Pasar akan menunggu kejelasan arah kebijakan fiskal, strategi menjaga stabilitas ekonomi, langkah penguatan rupiah, hingga bagaimana pemerintah merespons tekanan pasar keuangan yang semakin besar,” kata Hendra, Selasa (19/5/2026).
Menurut dia, jika pidato Presiden mampu memberikan kepastian kebijakan dan menunjukkan keberpihakan terhadap stabilitas pasar, maka IHSG berpotensi mengalami technical rebound.
Sebaliknya, apabila belum ada langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan investor, tekanan terhadap pasar domestik diperkirakan masih akan berlanjut.
Secara teknikal, Hendra menilai area 6.300 menjadi support psikologis penting bagi IHSG. Jika level tersebut mampu dipertahankan, indeks masih berpeluang rebound menuju area 6.500 hingga 6.535.
Namun, jika support tersebut ditembus, risiko pelemahan lanjutan diperkirakan semakin besar karena pasar mulai memasuki fase krisis kepercayaan jangka pendek.
“Besok, pidato Presiden berpotensi menjadi salah satu momentum penting untuk menentukan apakah pasar mulai menemukan titik stabilisasi atau justru kembali kehilangan arah,” ujar Hendra.
Pada perdagangan Selasa (19/5/2026), IHSG tercatat anjlok 3,46% ke level 6.370 dan menjadi salah satu indeks dengan performa terburuk di kawasan Asia.
Menurut Hendra, kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap pasar domestik saat ini tidak hanya berasal dari faktor eksternal, tetapi juga dipengaruhi melemahnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar domestik saat ini bukan hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga mencerminkan mulai rapuhnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi dan stabilitas pasar keuangan Indonesia dalam jangka pendek,” jelasnya.
Padahal, lanjut Hendra, sentimen global sebenarnya mulai membaik setelah Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran demi membuka ruang negosiasi damai.
“Bursa Eropa dibuka menghijau, sebagian besar indeks Asia bergerak stabil, dan imbal hasil obligasi global mulai turun. Namun IHSG justru bergerak berlawanan arah. Ini menandakan bahwa pasar Indonesia sedang menghadapi tekanan domestik yang jauh lebih dominan dibanding sentimen global,” kata Hendra.
Tekanan di pasar saham juga terjadi hampir di seluruh sektor, terutama sektor basic industry yang anjlok hingga 7,30%.
Sejumlah saham seperti TPIA, BRPT, INKP, TKIM, hingga SMGR mengalami tekanan jual agresif.
“Hal tersebut mengindikasikan adanya aksi pengurangan risiko besar-besaran dari investor institusi maupun asing,” ujarnya.
Selain itu, pelemahan rupiah ke area Rp17.706 per dolar AS dinilai mulai menjadi perhatian serius investor karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi impor, risiko utang luar negeri korporasi, hingga beban fiskal pemerintah.
“Pelemahan rupiah bukan hanya berdampak pada meningkatnya tekanan inflasi impor, tetapi juga meningkatkan kekhawatiran terhadap beban utang luar negeri korporasi serta risiko fiskal pemerintah,” ungkap Hendra.
Ia menilai tekanan terhadap IHSG berpotensi semakin besar apabila pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan berlanjutnya arus keluar dana asing dari pasar saham domestik.

