Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir
  • Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran
  • Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet
  • Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?
  • Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah
  • BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal
  • Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli
  • Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Finance»Saat Prabowo Bilang Desa Tak Terdampak Dolar, Dua Ekonom Indef Soroti Ancaman Inflasi hingga Beban Subsidi

Saat Prabowo Bilang Desa Tak Terdampak Dolar, Dua Ekonom Indef Soroti Ancaman Inflasi hingga Beban Subsidi

Finance Gusti Tetiro18 Mei 2026 / 05:08 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Presiden Prabowo meresmikan Museum dan Rumah Singgah pahlawan nasional Marsinah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026) (Dok. BPMI Sekretariat Presiden)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) —  Presiden Prabowo Subianto buka suara terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kini menyentuh level Rp17.600 per dolar AS, terlemah sepanjang sejarah. Di tengah tekanan kurs yang terus meningkat, Prabowo menilai kondisi ekonomi nasional masih tetap aman.

“Saya yakin sekarang ada yang selalu sebentar-sebentar ‘Indonesia akan collapse, akan chaos’… Orang rakyat di desa enggak pake dolar kok,” ujar Prabowo saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).

Menurut Prabowo, ketahanan pangan dan energi Indonesia masih relatif terjaga meskipun banyak negara lain menghadapi tekanan ekonomi global.

“Pangan aman, energi aman, banyak negara panik, Indonesia masih oke,” katanya.

Namun, sejumlah ekonom menilai pernyataan tersebut terlalu menyederhanakan dampak pelemahan rupiah terhadap masyarakat, terutama di wilayah pedesaan.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ariyo DP Irhamna, mengatakan secara literal pernyataan Prabowo memang benar karena masyarakat desa tidak bertransaksi langsung menggunakan dolar AS. Meski begitu, menurut dia, hampir seluruh rantai produksi domestik tetap sangat dipengaruhi mata uang dolar.

“Secara literal pernyataan itu benar, tetapi sebagai pembacaan ekonomi terlalu menyederhanakan. Dollar tidak perlu masuk ke dompet petani untuk membentuk harga yang mereka bayar,” ujar Ariyo kepada tutur.co.id, Minggu (17/5/2026).

Ariyo menjelaskan, sekitar 70% impor Indonesia masih berupa bahan baku dan bahan penolong, sementara 20% lainnya merupakan barang modal. Kondisi itu membuat aktivitas produksi dalam negeri, termasuk sektor pertanian dan pangan di desa, tetap bergantung pada input berbasis dolar AS.

Ia mencontohkan bahan baku pupuk NPK yang masih mengandalkan impor fosfat dan kalium, serta kebutuhan energi seperti solar untuk pompa air, mesin penggilingan padi, hingga perahu nelayan yang mengikuti harga minyak dunia. Selain itu, pakan ternak dan bahan baku obat-obatan juga masih banyak diimpor.

Baca Juga  BRI Perkuat Layanan Money Changer, Layani Penukaran 20 Mata Uang Asing

Menurut Ariyo, pelemahan rupiah juga berpotensi menekan ruang fiskal pemerintah. Dengan asumsi nilai tukar APBN 2026 berada di kisaran Rp16.000 per dolar AS, posisi rupiah di level Rp17.500–17.600 akan meningkatkan beban subsidi energi dan pupuk serta pembayaran bunga utang valas pemerintah.

“Ada tekanan ganda: subsidi energi dan pupuk membengkak, beban bunga utang valas naik. Ruang fiskal untuk Dana Desa dan transfer ke daerah jadi lebih sempit,” ujarnya.

Ia menambahkan, klaim ketahanan pangan dan energi lebih menggambarkan ketersediaan stok, sementara dampak pelemahan rupiah bekerja melalui kenaikan harga dan penurunan daya beli masyarakat.

“Klaim ketahanan pangan-energi memang sebagian didukung data, namun itu variabel kuantitas (stok). Dampak kurs bekerja lewat harga (biaya pokok, daya beli riil). Dua hal yang tidak saling menggantikan,” kata Ariyo.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Kerja Sama Indef, Imamduddin Abdullah. Menurut dia, masyarakat desa tetap terdampak pelemahan rupiah meskipun tidak memegang dolar AS secara langsung.

“Memang orang desa tidak pegang dolar, tapi banyak barang yang mereka pakai harganya dipengaruhi dolar: BBM, LPG, pupuk, obat, pakan ternak, alat pertanian, bahan pangan impor, sampai ongkos logistik,” ujar Imam kepada tutur.co.id.

Ia menilai kenaikan biaya impor akibat depresiasi rupiah pada akhirnya akan diteruskan ke harga barang di pasar dan warung, termasuk di pedesaan.

“Kalau rupiah melemah, biaya impor naik, biaya produksi naik, lalu pelan-pelan masuk ke harga barang di pasar atau warung. Jadi dampaknya tetap sampai ke desa, walaupun tidak langsung kelihatan,” katanya.

Menurut Imam, kelompok masyarakat kecil justru menjadi pihak paling rentan terhadap pelemahan rupiah karena kenaikan harga kebutuhan pokok belum tentu diikuti peningkatan pendapatan.

Baca Juga  BI Berpotensi Tahan Suku Bunga 4,75% di Tengah Lonjakan Inflasi dan Tekanan Modal Asing

“Jadi masalah kurs bukan cuma urusan orang yang ke luar negeri atau pegang dolar. Tapi sebenarnya rakyat kecil justru paling rentan, karena harga naik tapi pendapatan mereka belum tentu ikut naik,” tegasnya.

dolar AS headline INDEF Prabowo Subianto Rupiah
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleChelsea Resmi Tunjuk Xabi Alonso sebagai Pelatih Baru
Next Article “Orang Desa Tak Pakai Dolar”, Pernyataan Prabowo Dikritik Ekonom Permata Bank dan Peneliti BRIN

Berita Lainnya

Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir

18 Juli 2026 / 15:06 WIB

Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran

18 Juli 2026 / 14:58 WIB

Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet

18 Juli 2026 / 14:19 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

Beberkan Kejanggalan Kasus Febrie, Hotman: Ada Sesuatu yang Dikejar

18 Juli 2026 / 10:03 WIB

Febrie Tak Ditahan Usai Diperiksa, Hotman: 18 Pertanyaan Terjawab

17 Juli 2026 / 22:42 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Video: Diisukan Jadi Wantimpres, Jokowi Pilih Tinggal di Solo

Kristo Suryokusumo14 Februari 2026 / 17:30 WIB

Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir

18 Juli 2026 / 15:06 WIB

Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran

18 Juli 2026 / 14:58 WIB

Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet

18 Juli 2026 / 14:19 WIB

Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?

18 Juli 2026 / 13:30 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.