Judul:Jakarta (tutur.co.id) – Pasar saham Indonesia dibuka dengan tekanan hebat pada pembukaan pagi ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin (18/5/2026) terjun bebas sejak pembukaan perdagangan. Pantauan Tutur pada kisaran satu jam setelah pasar dibuka, IHSG anjlok hingga lebih dari 4% dan menyentuh level 6.440.
Tekanan jual yang masif terlihat mendominasi hampir seluruh sektor, seiring sentimen global dan domestik yang memburuk secara bersamaan.
Kepala Analis Ritel Herdityo Wicaksono dari MNC Sekuritas menjelaskan bahwa pergerakan IHSG hari ini masih sejalan dengan proyeksi teknikal yang telah disampaikan sebelumnya.
“Untuk pergerakan IHSG hari ini masih sejalan dengan report teknikal pagi ini, dimana pergerakan IHSG masih bergerak downtrend dan sudah mencapai area koreksi yang kami sampaikan (6644–6711), saat ini IHSG mencoba untuk menutup area gap di 6538–6585,” ujar Herdityo kepada Tutur.co.id.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa tekanan lanjutan masih berpotensi terjadi, dengan level support terdekat yang perlu dicermati pelaku pasar.
“Apabila tekanan jual masih berlanjut, maka IHSG berpeluang melanjutkan pelemahan menuju area support berikutnya di 6.378,” tambahnya.
Dari sisi sentimen, Herdityo menyoroti tekanan eksternal yang semakin membebani pasar. Konflik geopolitik yang berkepanjangan kembali mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia ke atas US$100 per barel.
“Hal ini kembali meningkatkan kekhawatiran investor akan tekanan inflasi ke depannya serta perlambatan ekonomi global,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa pelemahan bursa global dan mayoritas bursa Asia turut memperparah kondisi IHSG. Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang masih tertekan di level Rp17.676/USD menjadi faktor tambahan yang membebani pergerakan indeks.
Tak hanya itu, sentimen negatif juga datang dari keputusan lembaga indeks global.
“IHSG juga tertekan dengan adanya pengumuman dari MSCI dan FTSE yang masih membekukan indeks Indonesia dan mengeluarkan beberapa emiten dari konstituennya, dimana hal ini akan menimbulkan outflow yang cukup besar di akhir Mei nanti,” tambah Herdityo.
Dengan kombinasi tekanan global, pelemahan rupiah, serta potensi arus keluar dana asing, pelaku pasar kini cenderung mengambil sikap wait and see sambil mencermati perkembangan lanjutan di pasar global dan domestik.

