Jakarta (tutur.co.id)— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mengalami koreksi jangka pendek pada perdagangan Kamis (15/1/2026) setelah mencatatkan penguatan signifikan dan menembus rekor tertinggi baru pada sesi sebelumnya.
Pada perdagangan Rabu (14/1/2026), IHSG ditutup menguat 0,94% ke level 9.032. Penguatan tersebut sekaligus menandai rekor tertinggi sepanjang masa, ditopang oleh aksi beli investor asing dengan nilai net buy mencapai Rp1,45 triliun.
Kinerja indeks didorong oleh penguatan saham-saham berkapitalisasi besar, terutama di sektor energi dan pertambangan, seperti PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA).
BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya menyebutkan bahwa sentimen pasar masih ditopang oleh ekspektasi berlanjutnya siklus penurunan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (The Fed), tren kenaikan harga komoditas global, serta arus masuk dana asing yang relatif terjaga di pasar domestik.
Namun demikian, seiring posisi IHSG yang telah berada di area resistance, potensi koreksi jangka pendek dinilai perlu diwaspadai, terutama akibat aksi ambil untung (taking profit) oleh pelaku pasar.
“Di sisi bawah, potensi pelemahan diperkirakan relatif terbatas dengan support psikologis di level 9.000, terlebih menjelang libur panjang akhir pekan ini yang cenderung menahan volatilitas pasar,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam ulasan hariannya, Kamis (15/1/2026).
Dari eksternal, tekanan datang dari pergerakan bursa Wall Street yang ditutup melemah pada perdagangan semalam. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,086% ke level 49.149,6, S&P 500 terkoreksi 0,53% ke posisi 6.926,6, sementara Nasdaq Composite melemah 1% ke level 23.471,7.
Untuk perdagangan hari ini, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham untuk strategi trading jangka pendek, antara lain BRMS, TEBE, dan FOLK, dengan mempertimbangkan pergerakan teknikal masing-masing saham.
Saham BRMS saat ini tengah mengalami fase pullback dengan area support di kisaran 1.180–1.215. Selama bertahan di atas level tersebut, peluang kelanjutan tren bullish masih terbuka dengan target resistance di rentang 1.295–1.355.
Sementara itu, saham TEBE masih bergerak sideways dan berada di area support 1.925–2.090. Jika mampu bertahan, saham ini berpotensi mengalami rebound dengan resistance terdekat di kisaran 2.490–2.710.
Adapun saham FOLK, berdasarkan grafik per jam, telah berhasil menembus level resistance 995–1.045. Selama harga bertahan di atas area tersebut, potensi penguatan lanjutan diperkirakan mengarah ke resistance berikutnya di kisaran 1.130–1.210.

