Washington DC (Tutur.co.id) – Pemerintah Amerika Serikat menghabiskan hampir 29 miliar dolar AS atau sekitar Rp507 triliun untuk operasi militer melawan Iran sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026. Besarnya biaya operasi tersebut diungkap Wakil Menteri Perang sekaligus Kepala Keuangan Jules W. Hurst III dalam sidang Komite Anggaran Pertahanan DPR AS, Selasa (12/5/2026).
“Pada saat kesaksian sebelumnya, jumlahnya 25 miliar dolar AS. Namun tim gabungan staf dan pengawas anggaran terus memperbarui estimasi itu, dan sekarang kami perkirakan mendekati 29 miliar dolar AS,” kata Hurst.
Menurut Hurst, peningkatan biaya dipengaruhi oleh kebutuhan perbaikan dan penggantian peralatan militer, serta biaya operasional pasukan AS yang masih dikerahkan di kawasan Timur Tengah.
“Hal ini karena biaya perbaikan dan penggantian peralatan, serta biaya operasional umum untuk menjaga pasukan di lapangan,” ujarnya dalam sidang tersebut.
Konflik antara AS dan Iran mulai meningkat sejak 28 Februari 2026 ketika Washington bersama Israel melancarkan serangan udara terhadap sejumlah target di Iran. Serangan tersebut menimbulkan kerusakan besar dan korban sipil, sebelum Iran melakukan serangan balasan yang memperluas eskalasi konflik di kawasan.
Ketegangan tersebut sempat mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu rute utama distribusi minyak dan gas dunia. Dampaknya, harga energi global melonjak dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi internasional.
Sejak awal konflik, pemerintahan Presiden Donald Trump terus memperluas operasi militer dengan alasan menjaga keamanan regional dan menekan kemampuan militer Iran. Washington juga menyebut operasi tersebut bertujuan melemahkan kapasitas ekonomi dan pertahanan Teheran.
Di sisi lain, sejumlah laporan independen menyebut biaya perang sebenarnya bisa jauh lebih besar. Data Iran War Cost Tracker yang dikutip beberapa media internasional memperkirakan total biaya operasi militer AS terhadap Iran sempat mencapai 61 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.000 triliun jika memasukkan kebutuhan logistik, pengerahan kapal perang, dan penggunaan rudal dalam skala besar.
Laporan tersebut menyebut dalam enam hari pertama operasi militer saja, AS diperkirakan menghabiskan lebih dari 11 miliar dolar AS. Pengeluaran harian kemudian disebut dapat mencapai sekitar 1 miliar dolar AS untuk mendukung operasi lanjutan di kawasan.
Meningkatnya biaya perang membuat pemerintah AS menghadapi tekanan fiskal yang semakin besar. Sejumlah anggota Kongres mulai meminta transparansi lebih rinci terkait penggunaan anggaran pertahanan dan dampaknya terhadap kondisi ekonomi domestik Amerika Serikat.
Sementara itu, upaya diplomasi untuk menghentikan konflik hingga kini belum menghasilkan kesepakatan permanen. Gencatan senjata sementara yang dimediasi Pakistan pada April lalu berakhir tanpa titik temu, sementara ketegangan militer di kawasan masih terus berlangsung.

