Jakarta (tutur.co.id) – Hantavirus bukanlah virus baru yang muncul dalam beberapa tahun terakhir. Penyakit ini sudah dikenal dunia sejak puluhan tahun silam. Pertama kali menarik perhatian dunia saat Perang Korea di awal 1950-an. Saat itu, ribuan tentara mengalami demam misterius dengan gangguan ginjal serius yang belum diketahui penyebabnya.
Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention, Jumat 8 Mei 2026, wabah besar pertama hantavirus terjadi antara tahun 1951 hingga 1954 selama Perang Korea. Lebih dari 3.000 tentara Perserikatan Bangsa-Bangsa dilaporkan jatuh sakit akibat penyakit yang saat itu disebut Korean Hemorrhagic Fever.
Setelah sempat membuat pusing tim medis saat itu, virus ini kemudian diketahui berasal dari hewan pengerat, terutama tikus liar yang memang mewabah sebelumnya di sekitar area medan Perang Korea.
Nama “Hantavirus” sendiri berasal dari Sungai Hantan di Korea Selatan. Pada tahun 1978, ilmuwan Korea Selatan bernama Ho Wang Lee berhasil mengidentifikasi virus tersebut dari tikus lapangan. Penemuan ini menjadi titik penting dalam sejarah penelitian penyakit menular dunia.
Hantavirus menyebar melalui urine, air liur, dan kotoran hewan pengerat yang terinfeksi. Manusia biasanya tertular saat menghirup partikel udara yang telah terkontaminasi virus. Karena itu, lingkungan yang kotor, gudang tertutup, atau area dengan banyak tikus menjadi tempat paling berisiko untuk penyebaran hantavirus.
Pada tahun 1993, hantavirus kembali menjadi perhatian besar setelah muncul wabah di wilayah Four Corners, Amerika Serikat. Wabah tersebut menyebabkan beberapa orang meninggal akibat gangguan pernapasan berat yang kemudian dikenal sebagai Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Sejak saat itu, penelitian mengenai hantavirus semakin berkembang di berbagai negara.
Gejala hantavirus biasanya dimulai dengan demam, sakit kepala, nyeri otot, dan tubuh lemas. Dalam kondisi berat, pasien dapat mengalami gagal napas atau gagal ginjal yang berpotensi mematikan. Hingga saat ini, belum ada obat khusus untuk hantavirus sehingga penanganan lebih fokus pada perawatan intensif dan deteksi dini.
Cara utama mencegah hantavirus adalah dengan mengurangi kontak dengan hewan pengerat dan menjaga kebersihan lingkungan. WHO dan CDC menyarankan masyarakat untuk menggunakan masker saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi tikus.
Meski tergolong langka, hantavirus tetap dianggap berbahaya karena tingkat kematiannya cukup tinggi pada beberapa kasus. Termasuk yang baru-baru ini terjadi di sebuah kapal pesiar yang tengah berlayar di Cape Verde. Tiga orang meninggal akibat virus yang satu ini.

