Jakarta (tutur.co.id) – Pegiat media sosial Ade Armando, Permadi Arya alias Abu Janda, dan Sekretaris Dewan Pembina PSI Grace Natalie, dipolisikan terkait unggahan potongan video Jusuf Kalla di akun media sosialnya. Tanggapan datang dari Ade Armando terkait pelaporan itu.
Sebelumnya diberitakan, sekitar 40 ormas Islam yang tergabung dalam Aliansi Ormas Islam Menjaga Kerukunan Umat melaporkan Ade Armando, Permadi Arya dan Grace Natalie. Laporan untuk ketiganya teregister dengan nomor LP/B/185/V/2026/SPKT/Bareskrim Polri tertanggal 4 Mei 2026.
Salah satu dari perwakilan puluhan ormas Islam, Gurun Arisastra menjelaskan pelaporan terkait dengan unggahan keduanya yang menampilkan video potongan dakwah Wakil Presiden Jusuf Kalla saat berceramah di masjid UGM soal konflik yang bersinggungan dengan agama di Poso dan Ambon waktu itu.
“LBH Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia dan LBH Syarikat Islam, LBH Muhammadiyah, Hidayatullah, AFKN dan organisasi lainnya telah melaporkan tiga figur Ade Armando, Permadi Arya, dan juga Grace Natalie,” kata Gurun Arisastra kepada wartawan di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Senin 5 Mei 2025.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa Ade Armando menampilkan penggalan ceramah JK di kanal Youtube Cokro TV pada 9 April 2026. Sedangkan Grace da Abu Janda juga mengunggah hal yang serupa di akun media sosial pribadinya.
Ade Armando Merespon
Menanggapi hal itu, Ade Armando menuding jika pelaporan yang diarahkan kepadanya hanya sebagai usaha memutarbalikan fakta.
“Masalahnya serangan balik kubu Pak JK itu tekesan hendak memutarbalikan fakta. Mereka bilang kami menyebarkan fitnah terhadap Pak JK, mereka bilang video kami itu tendesius dan mengadu domba. Mereka bilang kami tidak ingin Indonesia guyub rukun aman sentosa. Itu semua tuduhan yang ngawur dan mengada-ada,” kata Ade Armando lewat akun instagramnya.
Sebagai informasi, kegaduhan berawal dari potongan video ceramah JK di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 5 Maret 2026 yang mendadak viral dan menuai kecaman publik. Pasalnya, potongan video tersebut dinilai dibangun dengan narasi (framing) yang mengarah pada dugaan penistaan agama Kristen.
“Semua pihak, Kristen juga berpikir begitu, kalau saya bunuh orang Islam saya syahid, kalau saya mati pun, saya syahid. Akhirnya susah berhenti kalau konfliknya orang membawanya ke agama,” bunyi potongan video JK.

