Tabanan (tutur.co.id) – Hujan deras dan kabut tebal terus menyelimuti kawasan Gunung Batukaru menjadi penyebab utama Tim SAR Bali kesulitan menemukan Made Dibya (84), pria lanjut usia yang dilaporkan hilang sejak Sabtu, 25 April 2026.
Kondisi cuaca ekstrem ini membuat jalur pendakian licin dan jarak pandang tim sangat terbatas. Akibatnya, pencarian yang telah berlangsung tujuh hari tidak membuahkan hasil.
Kepala Seksi Operasi Basarnas Bali, I Wayan Juni Antara, mengakui bahwa medan Gunung Batukaru sangat tidak bersahabat selama operasi pencarian dilakukan.
Curah hujan tinggi sepanjang pekan mengubah tanah menjadi lumpur licin. Kabut tebal kerap turun tiba-tiba, membuat pandangan tim tidak maksimal.
“Sampai pencarian terakhir hari ini, tim SAR gabungan belum menemukan indikasi korban ditemukan,” kata Wayan dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 2 Mei 2026
Kondisi ini tidak hanya menyulitkan pencarian, tetapi juga membahayakan keselamatan tim. Personel gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, relawan, dan warga harus ekstra hati-hati saat menyusuri lereng berbukit dan jurang yang rawan longsor.
Saksi mata Negah Susana Yasa (61) yang dilibatkan pun kesulitan menunjukkan jalur karena kondisi medan berubah akibat hujan.
Meski tim SAR telah menyisir hutan dan area perbukitan selama tujuh hari, tidak ada satu pun tanda-tanda keberadaan korban yang ditemukan.
Maka diputuskan penghentian pencarian sesuai dengan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan.
Meski demikian, pihaknya terus akan melakukan pemantauan dan segera melakukan tindakan pencarian jika adanya tanda-tanda baru keberadaan korban.
Tim SAR Bali mengucapkan terima kasih kepada seluruh tim gabungan. Meski operasi dihentikan, pemantauan akan terus dilakukan bersama pemandu pendakian di Gunung Batukaru.

