Beijing (tutur.co.id) – Industri smartphone mulai menunjukkan tanda-tanda kejenuhan dan perusahaan teknologi besar tidak tinggal diam. Kini mereka mulai berlomba-lomba melebarkan ‘kawasan’ dengan mencari mesin pertumbuhan baru. Salah satunya dengan mulai serius menggarap robot humanoid.
Dilansir dari China Daily, Kamis 30 April 2026, ini bukan sekadar eksperimen, tapi bagian dari strategi bisnis jangka panjang. Di pabrik Xiaomi, robot humanoid mulai dilatih untuk bekerja laiaknya manusia. Produsen serupa seperti Honor justru mengembangkan robot yang diarahkan untuk kebutuhan konsumen, bahkan telah dipamerkan dan diuji dalam kegiatan seperti half marathon.
Dua pendekatan ini menunjukkan bahwa arah pengembangan robot tidak tunggal. Setiap perusahaan mencoba mencari pasar yang paling realistis untuk dimasuki. Alasan di balik pergeseran ini cukup jelas, bisnis smartphone tidak lagi sekuat dulu. Margin keuntungan makin tipis, biaya komponen meningkat, dan inovasi mulai terbatas. Kondisi ini membuat perusahaan harus mencari “second growth curve” agar tetap berkembang. Robot dianggap sebagai peluang berikutnya yang masih terbuka lebar.
Strategi yang diambil pun berbeda-beda antar perusahaan. Honor lebih fokus ke robot untuk interaksi manusia, seperti pendamping atau asisten di rumah dan retail. Sementara Xiaomi memilih jalur industri, dengan menargetkan otomatisasi pabrik yang lebih terukur hasilnya. Dua pendekatan ini mencerminkan eksperimen besar dalam menentukan arah masa depan robot.
Tidak hanya dua perusahaan itu, pemain besar lain juga ikut masuk. Huawei disebut sedang mengembangkan platform AI untuk mendukung robot, bahkan sudah diuji dalam layanan keuangan.
Tak mau ketinggalan, Vivo juga membangun laboratorium robotika sendiri dengan fokus pada penggunaan di rumah. Ini menunjukkan bahwa tren tersebut bukan sekadar satu-dua perusahaan, tapi pergeseran industri secara luas.
Menariknya, perusahaan smartphone sebenarnya sudah punya banyak “bekal” untuk masuk ke dunia robot. Mereka terbiasa dengan integrasi hardware, pengembangan chip, hingga optimalisasi AI dalam perangkat.
Dalam banyak hal, robot humanoid dianggap sebagai bentuk lanjutan dari perangkat pintar yang sudah ada. Bedanya, kini perangkat tersebut bisa bergerak dan berinteraksi langsung dengan dunia fisik.
Meski terlihat menjanjikan, jalan ke arah ini masih penuh tantangan. Biaya produksi masih tinggi dan sebagian besar robot masih dalam tahap pengujian. Penggunaan di kehidupan sehari-hari juga belum sepenuhnya jelas, terutama untuk pasar rumah tangga. Namun dengan investasi dan kecepatan inovasi yang ada, perlombaan menuju era robot sudah resmi dimulai.

