Jakarta (tutur.co.id)- PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas) menyambut positif langkah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang tengah mengkaji pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai bagian dari bauran energi nasional. Bagi PGN Gagas, kajian ini menjadi momentum strategis untuk memperluas pemanfaatan energi gas bumi domestik secara berkelanjutan.
Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, menegaskan bahwa pengembangan CNG bukan untuk menggantikan energi lain, melainkan menambah pilihan energi bagi masyarakat dan pelaku usaha.
“Kami melihat ini bukan soal menggantikan satu energi dengan energi lain, melainkan memperluas pilihan. Masyarakat maupun pelaku usaha membutuhkan akses terhadap beragam sumber energi yang andal, terjangkau, dan berbasis sumber daya dalam negeri. CNG merupakan salah satu opsi energi yang telah tersedia dan dapat terus dikembangkan secara bertahap sesuai dengan arah kebijakan pemerintah,” ujar Santiaji, berdasar keterangan tertulis yang diterima Redaksi Tutur.
Selama lebih dari satu dekade, PGN Gagas telah menghadirkan solusi energi CNG untuk berbagai segmen, mulai dari industri, komersial, UMKM hingga transportasi. Sepanjang 2025, perusahaan mencatat penyaluran gas bumi melalui layanan CNG dan LNG mencapai sekitar 4,65 juta MMBTU.
Dengan dukungan fasilitas kompresi gas, armada Gas Transport Module (GTM), serta infrastruktur pendukung lainnya, PGN Gagas menilai memiliki kesiapan untuk mendukung pengembangan CNG secara bertahap. Pemanfaatan gas bumi juga terintegrasi dengan jaringan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN), sehingga memperkuat optimalisasi energi domestik.
Sebagai bagian dari Subholding Gas Pertamina, PGN Gagas menegaskan bahwa CNG merupakan bagian dari ekosistem energi nasional yang saling melengkapi, bukan bersaing dengan sumber energi lainnya.
“Semakin beragam pilihan energi yang tersedia, semakin kuat ketahanan energi kita sebagai bangsa. CNG hadir sebagai salah satu opsi yang melengkapi energi eksisting dalam kerangka bauran energi nasional,” tambah Santiaji.

