Jakarta (tutur.co.id) – Komunitas KRLmania sebagai representasi para pengguna Commuter Line menyampaikan duka cita yang mendalam atas tragedi tabrakan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam lalu. KRLmania juga mengeluarkan pernyataan sikap terkait tragedi yang menyebabkan 15 orang meninggal dunia.
Menurut Komunitas KRLmania, insiden ini bukan sekadar kecelakaan, melainkan indikator adanya kerentanan sistemik dalam keselamatan operasional perkeretaapian. Dalam sistem transportasi massal berfrekuensi tinggi seperti KRL Jabodetabek yang melayani lebih dari satu juta penumpang per hari, margin kesalahan harus mendekati nol. Satu celah kecil, baik teknis maupun prosedural, dapat berujung pada risiko fatal.
“KRLmania memandang bahwa keselamatan jiwa penumpang adalah mandat konstitusional negara yang tidak dapat dinegosiasikan oleh alasan anggaran, teknis, maupun administratif,” tulis KRLmania dalam keterangan tertulisnya, Rabu 29 April 2026.
Menyikapi hal tersebut, KRLmania menyatakan sikap. Pertama, prioritaskan Anggaran Keselamatan sebagai Belanja Wajib Negara Kami mendesak Pemerintah (Pusat dan Daerah) serta DPR RI untuk menetapkan anggaran keselamatan transportasi publik sebagai non-negotiable spending.
Lalu, modernisasi persinyalan (termasuk upgrade ke sistem berbasis interlocking elektronik dan Automatic Train Protection), peremajaan infrastruktur, serta peningkatan kapasitas jalur harus dilindungi dari pemangkasan anggaran. Negara tidak boleh menukar keselamatan publik dengan efisiensi fiskal jangka pendek.
Kedua, percepatan DDT dan Audit Total Persinyalan oleh DJKA Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) harus menuntaskan proyek Double-Double Track (DDT) Bekasi–Cikarang secara tegas dan terukur. Jalur eksisting yang masih bercampur antara KRL dan kereta jarak jauh meningkatkan kompleksitas operasi serta potensi konflik perjalanan.
Selain itu, diperlukan audit independen dan menyeluruh terhadap sistem persinyalan: mulai dari keandalan perangkat, penempatan dan redundansi lokasi sinyal, integrasi antar-stasiun, hingga fail-safe mechanism. Sistem persinyalan modern dirancang untuk “gagal dalam kondisi aman” (fail-safe), namun efektivitasnya sangat bergantung pada pemeliharaan, integrasi sistem, dan disiplin operasional.
Pernyataan sikap ketiga, evaluasi Kritis SOP dan Faktor Manusia oleh PT KAI PT KAI perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap SOP perjalanan, dengan fokus pada koordinasi antara Masinis, Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA), dan Pusat Pengendali Operasional Kereta (Operation Control Center/OCC). Evaluasi tidak boleh berhenti pada dokumen, tetapi harus menyentuh praktik lapangan: kejelasan protokol komunikasi, kecepatan respons dalam kondisi anomali, serta penerapan sistem redundansi untuk mencegah keputusan tunggal berisiko tinggi.
Keempat, terkait evaluasi Desain Keselamatan Sarana (Kereta Khusus Wanita), KRLmania menyampaikan keprihatinan mendalam atas tingginya dampak korban di area Kereta Khusus Wanita (KKW). Hal ini menuntut evaluasi berbasis data terhadap distribusi beban penumpang, desain interior, serta posisi rangkaian terhadap titik risiko. Keselamatan tidak cukup dengan pemisahan ruang berbasis gender; harus ada pendekatan safety engineering yang mempertimbangkan mitigasi benturan dan evakuasi cepat.
Lalu pernyataan sikap yang kelima, soal disiplin publik sebagai Lapisan Keselamatan Terakhir, KRLmania mengimbau masyarakat untuk meningkatkan disiplin, terutama di perlintasan sebidang yang secara statistik masih menjadi titik rawan kecelakaan tertinggi.
Di sisi lain, Pemerintah harus mengamankan perlintasan sebidang dengan palang otomatis dan penjagaan yang memadai. KRLmania akan mengawal proses investigasi secara kritis dan independen. Transparansi hasil investigasi harus dibuka ke publik, termasuk jika ditemukan kegagalan sistemik, bukan sekadar menyalahkan individu di lapangan. Transportasi publik yang aman bukanlah fasilitas tambahan, melainkan hak dasar warga negara.
Setiap kelalaian, baik dalam perencanaan, penganggaran, maupun operasional, harus dipertanggungjawabkan secara terbuka dan tegas.KRLmania adalah komunitas sukarelawan dan pengguna aktif berjumlah 500.000 penumpang KRL Commuter Line sejak 2003 yang berfokus pada advokasi pelayanan, keselamatan, dan peningkatan kualitas transportasi publik di Indonesia.

