Bandung (Tutur.co.id) – Suasana duka menyelimuti Jawa Barat setelah kecelakaan tragis yang melibatkan kereta api di Stasiun Bekasi Timur. Di tengah kepedihan para korban dan keluarga yang ditinggalkan, Pemerintah Provinsi Jabar bergerak cepat memastikan negara hadir dalam penanganan pascakejadian.
Gubernur Dedi Mulyadi, menegaskan seluruh biaya pengobatan korban luka akan ditanggung penuh oleh pemerintah daerah. Selain itu, santunan juga disiapkan bagi keluarga korban meninggal dunia.
“Pemerintah Provinsi Jawa Barat menanggung seluruh biaya perawatan rumah sakit pada semua korban yang dirawat. Akan memberikan santunan kepada yang meninggal masing-masing Rp50 juta,” ujarnya di Gedung Pakuan, Bandung, Selasa (28/4/2026).
Langkah ini, menurut pria yang akrab disapa KDM, merupakan bentuk tanggung jawab sekaligus kehadiran pemerintah di saat masyarakat menghadapi musibah. Ia tidak hanya menekankan aspek bantuan materiil, tetapi juga menyampaikan empati mendalam kepada para korban, khususnya penumpang KRL rute Jakarta-Bekasi yang terdampak langsung dalam peristiwa tersebut.
“Saya berharap, peristiwa itu menjadi kecelakaan terakhir kereta api,” ucapnya, seraya mengajak masyarakat untuk mendoakan para korban dan keluarga yang ditinggalkan agar diberi kekuatan dan kesabaran menghadapi cobaan ini.
Berdasarkan data terakhir, kecelakaan merenggut 15 nyawa dan menyebabkan 76 orang lainnya mengalami luka-luka. Insiden bermula saat KRL Commuter Line berhenti di stasiun, sebelum kemudian dihantam oleh KA Argo Bromo Anggrek relasi Jakarta-Surabaya yang melaju di jalur yang sama. Tabrakan keras itu memicu kepanikan dan menyebabkan jatuhnya banyak korban.
Hingga kini, Pemprov Jabar terus berkoordinasi dengan rumah sakit serta otoritas terkait untuk memastikan seluruh korban mendapatkan perawatan terbaik tanpa terkendala biaya. Upaya ini menjadi bagian dari respons cepat pemerintah dalam meminimalkan dampak lanjutan dari tragedi tersebut.

