Jakarta (tutur.co.id) — Pergerakan IHSG ditutup melemah tajam 3,38% ke level 7.129,49 pada Jumat (24/4/2026), memperpanjang tekanan sepanjang pekan di tengah sentimen global yang memburuk. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dunia mendorong investor global melakukan aksi risk-off, sehingga menekan pasar saham, termasuk Indonesia.
Pelemahan rupiah turut memperbesar tekanan terhadap pasar domestik. Di sisi teknikal, IHSG juga menunjukkan sinyal negatif setelah breakdown dari MA20, dengan indikator MACD yang menyempit dan berpotensi membentuk death cross. Kondisi ini membuka peluang koreksi lanjutan menuju area gap di sekitar 7.022 hingga uji level psikologis 7.000 pada awal pekan.
Phintraco Sekuritas menyebut tekanan tersebut masih berlanjut dalam jangka pendek. “Dengan kondisi ini, IHSG diperkirakan menguji level psikologis di 7.000,” tulisnya dalam riset.
Pelaku pasar saat ini cenderung menahan diri sambil mencermati agenda global, terutama pertemuan The Fed dalam FOMC pada 29 April 2026 yang diperkirakan menahan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75%. Selain itu, rilis data ekonomi Amerika Serikat dan keputusan bank sentral utama dunia juga akan memengaruhi arah pergerakan pasar.
Di tengah tekanan tersebut, peluang tetap terbuka pada sejumlah saham. KB Valbury Sekuritas merekomendasikan strategi “buy on weakness” pada saham BBNI, BBTN, MEDC, AKRA, PTBA, serta ANTM.
“Strategi buy on weakness masih relevan di tengah volatilitas tinggi, dengan tetap memperhatikan level risiko,” tulis KB Valbury.
Dengan tekanan eksternal yang belum mereda dan sinyal teknikal yang masih lemah, IHSG diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada awal pekan, sehingga investor disarankan tetap selektif dalam mengambil posisi.

