Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?
  • Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah
  • BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal
  • Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli
  • Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026
  • Mencari Akhir yang Manis
  • Beberkan Kejanggalan Kasus Febrie, Hotman: Ada Sesuatu yang Dikejar
  • Berikut daftar 8 lokasi Samsat Keliling di Wilayah Jabodetabek 18 Juli 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Daerah»20 Tahun Lumpur Sidoarjo, Pakar ITS Ungkap Dampak Serius terhadap Ekosistem Sungai Porong

20 Tahun Lumpur Sidoarjo, Pakar ITS Ungkap Dampak Serius terhadap Ekosistem Sungai Porong

Daerah Sasha Widiawati29 Mei 2026 / 21:12 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Prof Dr Dewi Hidayati SSi MSi
Prof Dr Dewi Hidayati SSi MSi
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Sidoarjo (tutur.co.id) – Genap 20 tahun sejak semburan lumpur melanda sebagian wilayah Kabupaten Sidoarjo pada 29 Mei, dampak ekologis terhadap kawasan hilir Sungai Porong masih menjadi perhatian serius kalangan akademisi. Selama dua dekade terakhir, pengaliran lumpur ke Sungai Porong telah memicu perubahan besar pada karakteristik lingkungan dan ekosistem perairan di sekitarnya.

Pakar ekotoksikologi dan fisiologi hewan dari Departemen Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Dr Dewi Hidayati SSi MSi, memaparkan hasil kajian ekologis berbasis indikator biologis pada ikan sebagai bagian dari upaya mitigasi jangka panjang terhadap dampak lingkungan akibat semburan lumpur.

Guru Besar ke-166 ITS itu menjelaskan bahwa Sungai Porong selama ini menerima limpasan material padat dalam volume besar tanpa proses pengolahan terlebih dahulu. Material pekat yang didominasi tanah liat lembut secara bertahap mengubah struktur dasar sungai dari pasir dan kerikil menjadi hamparan lumpur tebal.

Kondisi tersebut memicu peningkatan Total Suspended Solids (TSS) atau tingkat kekeruhan air secara ekstrem di sepanjang aliran sungai. Perubahan substrat dasar sungai juga berdampak langsung terhadap keberlangsungan hidup biota air.

Dari hasil analisis mikroskopik yang dilakukan tim peneliti ITS, partikel lumpur berukuran sangat kecil ditemukan menempel hingga menyumbat filamen insang ikan. Paparan tersebut menyebabkan kerusakan jaringan serius berupa hiperplasia hingga nekrosis sel pada organ pernapasan ikan.

Tak hanya menyerang insang, pencemaran lumpur juga berdampak pada struktur pelindung tubuh ikan. Melalui pengamatan menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM), ditemukan kerusakan mikrostruktur sisik ikan akibat deformasi sel penempel atau seferul. Kerusakan itu membuat sisik lebih mudah terlepas dan meningkatkan risiko infeksi mikroorganisme.

Meski tekanan lingkungan terjadi secara masif, penelitian tersebut juga menemukan adanya proses adaptasi alami pada ekosistem perairan. Pergeseran komposisi jenis ikan mulai terjadi di kawasan hilir Sungai Porong.

Baca Juga  BMKG dan Pemprov Jabar Gelar Operasi Modifikasi Cuaca Antisipasi Cuaca Ekstrem

Menurut Dewi, sejumlah ikan lokal yang sensitif terhadap tingkat kekeruhan perlahan menghilang dan digantikan oleh spesies yang lebih toleran terhadap habitat berlumpur. Beberapa jenis ikan yang kini mendominasi wilayah hilir antara lain ikan keting (Mystus gulio), belanak (Mugil cephalus), dan beloso (Saurida tumbil).

Sementara itu, kondisi kawasan pertambakan di sekitar muara perairan, termasuk tambak udang, dinilai masih relatif aman untuk konsumsi. Faktor geografis berupa penghalang daratan alami disebut membantu menyaring luapan material lumpur sebelum mencapai area tambak masyarakat.

Selain pencemaran air, kawasan sekitar semburan lumpur juga menghadapi persoalan polusi udara akibat emisi gas yang mengandung metana dan belerang. Hasil analisis kimia air turut menunjukkan tingginya kandungan logam berat seperti aluminium dan besi yang melampaui baku mutu lingkungan.

Dewi menegaskan, kandungan aluminium dapat menjadi sangat berbahaya apabila tingkat keasaman atau pH air berubah menjadi lebih asam. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tingkat toksisitas bagi organisme perairan.

Kajian ekologis ITS juga memperlihatkan perbedaan mencolok antara wilayah hulu yang bebas lumpur dan kawasan hilir terdampak. Pada stasiun pengamatan di hulu, kualitas habitat dan mutu air masih tergolong baik dengan kondisi insang ikan yang sehat. Sebaliknya, wilayah hilir mengalami degradasi lingkungan berat sehingga hanya mampu mendukung kehidupan biota tertentu.

Sebagai Dekan Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD) ITS, Dewi menilai rangkaian data biologis tersebut penting sebagai sistem peringatan dini bagi pemerintah dan pemangku kebijakan. Hasil penelitian dapat menjadi dasar penyusunan strategi pemulihan lingkungan dan pencegahan kerusakan ekologis berkelanjutan.

Ia juga menekankan pentingnya pemantauan kualitas air dan kesehatan biota secara terintegrasi mengingat Sungai Porong menjadi salah satu sumber air utama bagi masyarakat Sidoarjo dan sekitarnya.

Baca Juga  Turis Manca Ramai Naik Kereta Api, Favoritnya Yogyakarta

Upaya tersebut dinilai sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-14 tentang Kehidupan di Bawah Air yang menitikberatkan pada pelestarian dan pemanfaatan sumber daya perairan secara berkelanjutan demi menjaga keseimbangan lingkungan serta keberlangsungan ekonomi masyarakat. (sas)

Lumpur Lapindo Sidoarjo
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticlePromo BRI KKB The Elite, Kredit Kendaraan Bunga Ringan dan Banyak Bonus Menarik
Next Article Kemenhaj Perkuat Layanan Jemaah di Jamarat pada Fase Mina

Berita Lainnya

Gempa Magnitudo 6,2 Guncang Sangihe Sulut, Tidak Berpotensi Tsunami

15 Juli 2026 / 02:08 WIB

Update Kasus Dokter Icha, Sikap 3 Partai hingga Pemeriksaan 32 Saksi di Polda NTT

14 Juli 2026 / 11:57 WIB

Komut Pertamina Tinjau Program KANG ILING, Pastikan CSR Berdampak bagi Masyarakat

03 Juli 2026 / 21:20 WIB

Misi Mencekam di Langit Papua: Tiga Helikopter Tempur Evakuasi Jasad Pilot AS yang Tewas Ditembak KKB

03 Juli 2026 / 10:23 WIB

KKB Bakar Pesawat di Yahokimo, Pilot Dikabarkan Tewas di Lokasi

02 Juli 2026 / 17:06 WIB

Gubernur Jakarta: Gembok Cinta Tepat di Depan Gedung KPK

02 Juli 2026 / 11:14 WIB
Form Komentar Cancel Reply

21 Kali Gempa Susulan Guncang Palu hingga Plafon Kampus UNTAD Roboh

Ahmad Nuryaman16 Juni 2026 / 14:06 WIB

Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?

18 Juli 2026 / 13:30 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal

18 Juli 2026 / 12:45 WIB

Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli

18 Juli 2026 / 11:50 WIB

Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026

18 Juli 2026 / 11:20 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.