Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia diproyeksikan bergerak terbatas alias sideways pada perdagangan Selasa (21/4/2026). Phintraco Sekuritas memperkirakan indeks akan bergerak di kisaran resistance 7.700, pivot 7.600, dan support 7.500.
Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup melemah 0,52% ke level 7.594,11 setelah sempat menguat di awal sesi. Tekanan datang dari meningkatnya kembali ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang berdampak pada lonjakan harga minyak dunia.
“Ketegangan antara AS-Iran yang kembali meningkat memudarkan harapan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat, sehingga mendorong penguatan kembali harga minyak mentah,” tulis Phintraco dalam risetnya.
Secara sektoral, seluruh sektor saham mengalami koreksi, dengan pelemahan terbesar terjadi pada sektor properti yang turun hingga 2,04%.
Dari sisi teknikal, IHSG masih berpotensi bergerak dalam rentang 7.500–7.700. Namun, jika tekanan berlanjut dan menembus level 7.500, indeks berisiko melanjutkan koreksi ke area 7.450–7.480.
“Jika IHSG hari ini menembus level 7.500, diperkirakan berpotensi menguji level 7.450–7.480,” jelas Phintraco.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan tipis sebesar 0,12% ke level Rp17.168 per dolar AS di pasar spot, di tengah pelemahan mayoritas mata uang Asia lainnya.
Phintraco juga menyoroti perkembangan sektor properti yang menghadapi tekanan dari kenaikan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL). Data Bank Indonesia menunjukkan NPL kredit properti pada Februari 2026 mencapai 3,24%, naik dari 2,99% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, pertumbuhan kredit properti masih cukup tinggi, yakni mencapai 13,7% secara tahunan. Kondisi ini menunjukkan peningkatan risiko seiring ekspansi kredit yang agresif.
Phintraco menilai arah kebijakan suku bunga BI juga menjadi faktor penting yang perlu dicermati.
“Jika BI menaikkan BI Rate untuk menahan depresiasi Rupiah berpotensi berdampak pada kenaikan NPL. Namun diperkirakan BI belum akan menaikkan BI Rate pada pertemuan Rabu (22/4/2026),” tulis Phintraco.
Selain itu, kebijakan penyesuaian harga BBM non-subsidi dinilai membantu menekan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), meskipun pemerintah masih menahan harga BBM bersubsidi untuk menjaga daya beli masyarakat.
Dalam kondisi pasar yang cenderung sideways, Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang berpotensi mencetak cuan, yaitu IMPC, BRMS, TAPG, SMDR, dan DSNG.

