Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet
  • Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?
  • Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah
  • BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal
  • Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli
  • Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026
  • Mencari Akhir yang Manis
  • Beberkan Kejanggalan Kasus Febrie, Hotman: Ada Sesuatu yang Dikejar
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Techno»Teknologi AI untuk ‘Hidupkan’ Orang Mati, Tiongkok Siapkan Regulasi Ketat

Teknologi AI untuk ‘Hidupkan’ Orang Mati, Tiongkok Siapkan Regulasi Ketat

Techno Muthia Hanifah20 April 2026 / 15:55 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Ilustrasi AI Digital Human. (Foto: Tutur/Gemini AI)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Beijing (tutur.co.id) – Tiongkok mulai menyiapkan regulasi ketat untuk membatasi penggunaan avatar AI (artificial intelligence) yang mampu meniru manusia, termasuk meniru untuk ‘menghidupkan’ mereka yang telah meninggal dunia.

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan kini memang semakin masuk ke wilayah yang semakin personal. Melalui teknologi AI digital human, manusia tidak hanya menciptakan mesin pintar, tetapi juga simulasi yang mampu meniru kehadiran seseorang, bahkan mereka yang telah meninggal.

Di titik inilah batas antara inovasi dan ilusi mulai dipertanyakan. Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok menjadi salah satu pusat pertumbuhan pesat AI digital human. Teknologi ini mampu mereplikasi wajah, suara, hingga cara berkomunikasi seseorang dengan tingkat kemiripan yang tinggi.

Penggunaannya pun meluas, dari media sosial hingga e-commerce, menjadikannya bagian dari lanskap digital yang kian sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Menurut laporan Xinhua, Senin 20 April 2026, nilai industri ini mencapai sekitar 4,1 miliar yuan pada 2024, dengan pertumbuhan hingga 85 persen dibanding tahun sebelumnya.

Namun, perkembangan ini tidak berhenti pada fungsi praktis semata. Sejumlah pengguna mulai memanfaatkan AI untuk menghadirkan kembali sosok orang tercinta yang telah tiada. Interaksi yang tercipta terasa nyata secara emosional, menghadirkan kenyamanan bagi sebagian orang, sekaligus memunculkan kegelisahan baru bagi yang lain.

Fenomena ini juga terlihat dalam kisah nyata. Salah satu contoh datang dari seorang perempuan di China yang memanfaatkan teknologi ini untuk menciptakan avatar ayahnya yang telah meninggal. Melalui AI, ia bisa kembali “berinteraksi” secara virtual, menghadirkan kembali sosok yang telah tiada dalam bentuk digital. Pengalaman ini memberinya ketenangan, namun sekaligus menimbulkan perasaan yang tidak sepenuhnya mudah dijelaskan.

Kekhawatiran terbesar muncul dari potensi dampak psikologis yang ditimbulkan. Ketika simulasi terasa semakin hidup, batas antara realitas dan representasi digital menjadi kabur. Dalam kondisi tertentu, teknologi ini berisiko menciptakan ketergantungan emosional yang membuat proses berduka menjadi semakin kompleks.

Baca Juga  Kolaborasi Telkom dan Media Dorong Ekosistem AI di Kampus, Universitas Udayana Jadi Pusat Pembelajaran

Mengacu pada laporan AFP dan Xinhua, pemerintah China melalui otoritas siber tengah menyusun aturan untuk memperketat pengawasan terhadap teknologi ini. Rancangan aturan mencakup kewajiban pelabelan konten berbasis AI serta larangan membuat replika digital seseorang tanpa persetujuan. Upaya ini dilakukan untuk melindungi identitas individu sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap teknologi.

Selain itu, potensi penyalahgunaan juga menjadi perhatian utama. Teknologi yang mampu meniru manusia secara realistis membuka peluang terjadinya penipuan dan manipulasi informasi. Kasus viral yang melibatkan interaksi dengan avatar orang yang telah meninggal memperlihatkan bahwa dampaknya tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga emosional dan sosial.

Di sisi lain, industri teknologi melihat AI digital human sebagai peluang besar yang terus berkembang. Nilai ekonominya meningkat pesat, seiring dengan semakin luasnya adopsi di berbagai sektor. Namun, pertumbuhan ini juga menuntut adanya tanggung jawab agar inovasi tidak melampaui batas yang dapat merugikan manusia itu sendiri.

Kemunculan AI digital human memperlihatkan bahwa teknologi tidak lagi sekadar alat, melainkan bagian dari pengalaman emosional manusia. Tiongkok mungkin sedang mencoba menarik garis batasnya, namun pertanyaan yang lebih besar tetap terbuka: sejauh mana manusia siap hidup berdampingan dengan teknologi yang tidak hanya meniru kehidupan, tetapi juga perasaan?

Artificial intelligence headline psikologi Teknologi Tiongkok
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleBeijing International Auto Show 2026 Tempat Debut 181 Kendaraan
Next Article Video: Anggaran BPOM Lebih Kecil Dari Pengadaan Kaos Kaki BGN, PDIP: Kok Bisa?

Berita Lainnya

Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet

18 Juli 2026 / 14:19 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026

18 Juli 2026 / 11:20 WIB

Beberkan Kejanggalan Kasus Febrie, Hotman: Ada Sesuatu yang Dikejar

18 Juli 2026 / 10:03 WIB

Febrie Tak Ditahan Usai Diperiksa, Hotman: 18 Pertanyaan Terjawab

17 Juli 2026 / 22:42 WIB

Alasan Polri Tetapkan Febrie Tersangka Meski Belum Diperiksa

17 Juli 2026 / 21:26 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Video: Momen Presiden Prabowo dan Raja Charles III Hadiri Pertemuan Filantropi

Kristo Suryokusumo22 Januari 2026 / 15:57 WIB

Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet

18 Juli 2026 / 14:19 WIB

Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?

18 Juli 2026 / 13:30 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal

18 Juli 2026 / 12:45 WIB

Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli

18 Juli 2026 / 11:50 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.