Beijing (tutur.co.id) – Tiongkok mulai menyiapkan regulasi ketat untuk membatasi penggunaan avatar AI (artificial intelligence) yang mampu meniru manusia, termasuk meniru untuk ‘menghidupkan’ mereka yang telah meninggal dunia.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan kini memang semakin masuk ke wilayah yang semakin personal. Melalui teknologi AI digital human, manusia tidak hanya menciptakan mesin pintar, tetapi juga simulasi yang mampu meniru kehadiran seseorang, bahkan mereka yang telah meninggal.
Di titik inilah batas antara inovasi dan ilusi mulai dipertanyakan. Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok menjadi salah satu pusat pertumbuhan pesat AI digital human. Teknologi ini mampu mereplikasi wajah, suara, hingga cara berkomunikasi seseorang dengan tingkat kemiripan yang tinggi.
Penggunaannya pun meluas, dari media sosial hingga e-commerce, menjadikannya bagian dari lanskap digital yang kian sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Menurut laporan Xinhua, Senin 20 April 2026, nilai industri ini mencapai sekitar 4,1 miliar yuan pada 2024, dengan pertumbuhan hingga 85 persen dibanding tahun sebelumnya.
Namun, perkembangan ini tidak berhenti pada fungsi praktis semata. Sejumlah pengguna mulai memanfaatkan AI untuk menghadirkan kembali sosok orang tercinta yang telah tiada. Interaksi yang tercipta terasa nyata secara emosional, menghadirkan kenyamanan bagi sebagian orang, sekaligus memunculkan kegelisahan baru bagi yang lain.
Fenomena ini juga terlihat dalam kisah nyata. Salah satu contoh datang dari seorang perempuan di China yang memanfaatkan teknologi ini untuk menciptakan avatar ayahnya yang telah meninggal. Melalui AI, ia bisa kembali “berinteraksi” secara virtual, menghadirkan kembali sosok yang telah tiada dalam bentuk digital. Pengalaman ini memberinya ketenangan, namun sekaligus menimbulkan perasaan yang tidak sepenuhnya mudah dijelaskan.
Kekhawatiran terbesar muncul dari potensi dampak psikologis yang ditimbulkan. Ketika simulasi terasa semakin hidup, batas antara realitas dan representasi digital menjadi kabur. Dalam kondisi tertentu, teknologi ini berisiko menciptakan ketergantungan emosional yang membuat proses berduka menjadi semakin kompleks.
Mengacu pada laporan AFP dan Xinhua, pemerintah China melalui otoritas siber tengah menyusun aturan untuk memperketat pengawasan terhadap teknologi ini. Rancangan aturan mencakup kewajiban pelabelan konten berbasis AI serta larangan membuat replika digital seseorang tanpa persetujuan. Upaya ini dilakukan untuk melindungi identitas individu sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap teknologi.
Selain itu, potensi penyalahgunaan juga menjadi perhatian utama. Teknologi yang mampu meniru manusia secara realistis membuka peluang terjadinya penipuan dan manipulasi informasi. Kasus viral yang melibatkan interaksi dengan avatar orang yang telah meninggal memperlihatkan bahwa dampaknya tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga emosional dan sosial.
Di sisi lain, industri teknologi melihat AI digital human sebagai peluang besar yang terus berkembang. Nilai ekonominya meningkat pesat, seiring dengan semakin luasnya adopsi di berbagai sektor. Namun, pertumbuhan ini juga menuntut adanya tanggung jawab agar inovasi tidak melampaui batas yang dapat merugikan manusia itu sendiri.
Kemunculan AI digital human memperlihatkan bahwa teknologi tidak lagi sekadar alat, melainkan bagian dari pengalaman emosional manusia. Tiongkok mungkin sedang mencoba menarik garis batasnya, namun pertanyaan yang lebih besar tetap terbuka: sejauh mana manusia siap hidup berdampingan dengan teknologi yang tidak hanya meniru kehidupan, tetapi juga perasaan?

