Jakarta (tutur.co.id) — Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5%, lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 5,1%. Revisi ini tercantum dalam laporan World Economic Outlook (WEO) edisi April 2026.
Penyesuaian proyeksi tersebut tidak lepas dari dampak konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu lonjakan harga komoditas, terutama energi. Kenaikan harga ini dinilai memberi tekanan pada aktivitas ekonomi global, termasuk Indonesia.
“Perekonomian di seluruh dunia menghadapi dampak buruk melalui pengaruh langsung dari kenaikan harga komoditas,” tulis IMF dalam laporannya.
Di kawasan Asia Tenggara, IMF memproyeksikan Vietnam menjadi negara dengan pertumbuhan tertinggi pada 2026, yakni 7,1%. Sementara Indonesia dan Malaysia diperkirakan tumbuh di kisaran 4,7%–5%, mencerminkan ketahanan yang relatif baik meski menghadapi tekanan eksternal.
IMF menggunakan skenario dasar (baseline) dengan asumsi konflik geopolitik berlangsung singkat dan mulai mereda pada pertengahan 2026. Namun, lembaga tersebut mengingatkan adanya risiko penurunan lebih lanjut jika konflik berlangsung lebih lama atau semakin intens.
Dari sisi global, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia melambat menjadi 3,1% pada 2026, turun dari 3,4% pada 2025. Perlambatan ini sejalan dengan lonjakan harga energi yang diproyeksikan meningkat hingga 19% pada tahun depan.
Harga minyak bahkan diperkirakan naik 21,4% dengan rata-rata mencapai sekitar US$82 per barel akibat gangguan produksi dan distribusi di kawasan Timur Tengah. Dampak lanjutan juga terlihat pada kenaikan harga pangan, seiring meningkatnya biaya energi, pupuk, serta terganggunya rantai pasok global.
IMF menilai kondisi ini berpotensi memperlebar ketimpangan antarnegara. Negara dengan ketergantungan tinggi terhadap impor energi diperkirakan menghadapi tekanan lebih besar, sementara negara pengekspor energi justru dapat memperoleh keuntungan dari kenaikan harga komoditas.
“Tanpa adanya perang, aktivitas ekonomi global sebenarnya berpotensi tetap berada di jalur stabil pada 2026. Namun, konflik yang berlangsung saat ini menambah ketidakpastian dan menekan prospek pertumbuhan,” tulis IMF.
Dengan berbagai risiko tersebut, prospek ekonomi Indonesia tetap dinilai solid, meski perlu mewaspadai tekanan eksternal, terutama dari fluktuasi harga energi dan dinamika geopolitik global.

