Riyadh (Tutur.co.id) – Arab Saudi mendesak Amerika Serikat untuk menghentikan blokade di Selat Hormuz dan kembali membuka jalur diplomasi dengan Iran.
Laporan The Wall Street Journal yang dikutip pada Selasa (14/4/2026), menyebutkan seruan tersebut disampaikan oleh sejumlah pejabat regional di tengah meningkatnya kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas. Kekhawatiran itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump resmi memberlakukan blokade angkatan laut di Selat Hormuz sejak 13 April 2026.
Blokade tersebut diberlakukan menyusul kegagalan perundingan antara Washington dan Teheran di Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan lalu. Perundingan itu sendiri merupakan bagian dari upaya meredakan konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari, setelah sebelumnya kedua pihak sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan.
Namun, langkah blokade dinilai berpotensi memperkeruh situasi. Arab Saudi disebut khawatir bahwa tindakan tersebut justru mendorong Iran untuk meningkatkan respons militer, sekaligus mengancam stabilitas jalur pelayaran global yang vital bagi distribusi energi dunia.
Salah satu kekhawatiran utama adalah potensi balasan Iran dengan menutup Bab al-Mandab, jalur strategis di Laut Merah yang menjadi pintu penting bagi ekspor minyak negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi.
Di satu sisi, negara-negara Teluk tidak menginginkan Iran memperkuat kendalinya atas Selat Hormuz—jalur utama yang menopang perekonomian mereka. Namun di sisi lain, mereka juga menilai konflik berkepanjangan akan membawa risiko yang jauh lebih besar terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi global.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa, meskipun retorika kedua pihak masih menunjukkan sikap keras, baik AS maupun Iran tetap menjalin komunikasi dengan mediator dan membuka peluang untuk melanjutkan perundingan. Upaya diplomasi dinilai masih mungkin dilakukan, selama kedua belah pihak menunjukkan fleksibilitas dalam negosiasi ke depan.

