Jakarta (tutur.co.id) – Idulfitri tak lagi sekadar soal mudik, opor ayam, dan antrean maaf di ruang tamu. Di tangan Generasi Z—mereka yang lahir dan besar bersama internet—Lebaran menjelma menjadi lanskap baru: lebih cepat, lebih cair, dan tak jarang, lebih virtual. Tradisi yang dulu bersandar pada pertemuan fisik kini bernegosiasi dengan algoritma, notifikasi, dan layar ponsel.
Perubahan paling kasatmata tampak pada cara bersilaturahmi. Jika dulu kunjungan dari rumah ke rumah menjadi ritual utama, kini percakapan berpindah ke ruang digital. Aplikasi seperti Instagram, TikTok, hingga Zoom menjadi “ruang tamu” baru. Video call keluarga lintas kota bahkan lintas negara menggantikan perjalanan panjang yang tak selalu memungkinkan. Dalam situasi tertentu—seperti pascapandemi—model ini bukan sekadar alternatif, melainkan kebiasaan baru.
Transformasi serupa terjadi pada tradisi Tunjangan Hari Raya (THR). Amplop cokelat yang dulu identik dengan Lebaran kini bersaing dengan kode QR dan notifikasi transfer. Sistem pembayaran berbasis QR seperti QRIS serta dompet digital semacam GoPay dan OVO membuat distribusi THR menjadi instan, bahkan lintas wilayah tanpa jeda. Bank Indonesia mencatat tren transaksi digital—termasuk QRIS—melonjak signifikan dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada periode hari besar keagamaan, mengindikasikan pergeseran preferensi masyarakat menuju sistem cashless.
Namun, Lebaran ala Gen Z tak berhenti pada efisiensi. Ia juga menjadi panggung ekspresi. Media sosial dipenuhi konten tematik: dari OOTD baju Lebaran, video “velocity” keluarga, hingga vlog perjalanan mudik. Momentum Idulfitri tidak hanya dirayakan, tetapi juga dikurasi—dipilih, diedit, dan dibagikan. Di sini, Lebaran bukan sekadar pengalaman personal, melainkan juga performatif, hadir untuk dilihat dan direspons oleh publik digital.
Fenomena ini sejalan dengan karakter Gen Z yang menurut berbagai riset—termasuk laporan We Are Social dan DataReportal—memiliki tingkat konsumsi dan produksi konten digital yang tinggi. Mereka tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga kreator aktif yang membentuk narasi perayaan itu sendiri. Lebaran pun berubah menjadi konten musiman, bersanding dengan tren dan algoritma.
Meski demikian, pergeseran medium tidak sepenuhnya menggerus makna. Di balik layar dan sinyal internet, nilai-nilai inti Idulfitri tetap bertahan. Tradisi sungkeman, saling memaafkan, hingga makan bersama keluarga masih menjadi ritual yang dipertahankan—terutama dalam lingkup keluarga inti. Digitalisasi lebih berperan sebagai pelengkap, bukan pengganti.
Di sisi lain, teknologi justru memperluas dimensi sosial Lebaran. Platform donasi daring memungkinkan kegiatan amal dilakukan lebih cepat dan terukur. Kampanye berbagi di media sosial memperluas jangkauan solidaritas, melampaui batas geografis. Dalam konteks ini, digitalisasi tidak sekadar mengubah cara merayakan, tetapi juga memperbesar dampak sosialnya.
Pada akhirnya, Lebaran ala Gen Z adalah cermin dari zaman: tradisi yang beradaptasi tanpa sepenuhnya tercerabut dari akarnya. Di tengah derasnya arus digital, Idulfitri tetap menjadi ruang refleksi—tentang kembali, memaafkan, dan merajut ulang hubungan. Hanya saja kini, sebagian dari proses itu berlangsung di balik layar, dalam dunia yang tak lagi mengenal jarak.

