Jakarta (tutur.co.id) – Menjelang magrib, suasana rumah biasanya berubah. Anak mulai gelisah. Ada yang rebahan sambil bilang lapar, ada yang bolak-balik ke dapur, ada juga yang mendadak sensitif karena hal sepele. Di titik itu, kesabaran Anda mungkin ikut diuji.
Tapi kalau ditarik mundur dua atau tiga dekade ke belakang, bukankah Anda pun pernah menjadi anak kecil yang menunggu beduk dengan perasaan campur aduk? Lapar, bosan, ingin jajan, ingin main, ingin cepat-cepat Lebaran.
Ramadan generasi milenial mungkin tak seramai sekarang. Belum ada notifikasi diskon takjil atau video resep viral tiap lima menit. Tapi bukan berarti godaannya lebih ringan. Justru dari kenangan-kenangan itulah, banyak orang tua hari ini belajar menjadi lebih maklum.
Berikut lima potret masa kecil milenial saat bulan puasa yang diam-diam membuat Anda lebih berempati pada anak Anda sekarang.
1. Ngabuburit Sederhana, Tapi Tetap Ribut dan Berisik
Dulu, ngabuburit berarti keliling kompleks naik sepeda, main karet, petak umpet, atau sekadar nongkrong di masjid menunggu azan. Tanpa gadget. Tanpa es boba. Tanpa konten “menu buka puasa kekinian”.
Tapi tetap saja, menjelang magrib suasana bisa ribut. Lapar membuat emosi lebih tipis. Ada yang ngambek karena kalah main, ada yang pulang sambil manyun karena tidak dibelikan jajanan.
Sekarang ketika anak Anda merengek minta takjil yang sedang viral, mungkin refleks pertama adalah membandingkan. “Dulu Mama/Papa nggak kayak gitu.”
Padahal kalau jujur, dulu Anda juga punya versi “rewel” sendiri. Hanya bentuknya yang berbeda.
2. Drama Bangun Sahur yang Tak Pernah Mudah
Bangun sahur adalah misi keluarga. Dibangunkan berkali-kali, ditarik selimutnya, bahkan ada yang sampai disiram air atau diancam tak boleh ikut buka bersama kalau tidak bangun.
Sekarang saat anak sulit dibangunkan, Anda mungkin merasa lelah. Apalagi jika harus mengurus banyak hal di waktu bersamaan.
Namun kenangan masa kecil itu mengingatkan satu hal: tubuh anak belum sepenuhnya kuat. Rasa kantuk mereka nyata. Dan puasa pertama bukan soal sempurna, tapi soal membiasakan.
Anda pernah jadi anak yang setengah sadar duduk di meja makan. Maka Anda pun belajar lebih lembut dalam membangunkan mereka.
3. Bolong Puasa dan Godaan yang Terlalu Besar
Tidak semua puasa masa kecil berjalan mulus. Ada hari ketika godaan terasa terlalu kuat. Minuman manis di kulkas terlihat lebih menggoda daripada nasihat orang tua.
Dan ya, mungkin ada momen ketika Anda diam-diam minum atau menyerah di tengah hari.
Kini ketika anak berkata ingin batal karena lapar atau lemas, Anda bisa saja kecewa. Tapi Anda juga tahu rasanya menjadi anak kecil yang sedang belajar menahan diri.
Dari situ, muncul pengertian bahwa ibadah adalah perjalanan panjang. Anda tak ingin anak menjalani Ramadan dengan rasa takut, melainkan dengan pemahaman dan cinta.
4. Menunggu THR dan Baju Lebaran dengan Harapan Besar
Ramadan dulu juga tentang menghitung hari menuju THR dan baju baru. Rasanya seperti puncak kebahagiaan tahunan. Ingin tampil paling rapi saat salat Id. Ingin sepatu baru yang mengkilap.
Sekarang ketika anak mulai membandingkan baju atau minta yang sedang tren, Anda mungkin tergoda untuk langsung menegur. Tapi bukankah dulu Anda juga ingin merasa istimewa di hari raya?
Akhirnya Anda belajar menyeimbangkan: mengajarkan syukur tanpa mematikan rasa ingin mereka.
5. Emosi Naik Turun Menjelang Magrib
Milenial kecil dulu juga sering “sensitif” saat puasa. Lapar membuat sabar lebih tipis. Kadang mudah tersinggung, kadang cepat marah, kadang menangis tanpa sebab jelas.
Kini ketika anak Anda menunjukkan pola yang sama, Anda sadar: ini bukan semata-mata soal manja. Ini soal tubuh yang sedang belajar beradaptasi. Ramadan memang mengajarkan sabar. Tapi sabar pun butuh waktu untuk dilatih.
Ramadan, Ruang Belajar untuk Dua Generasi
Zaman boleh berubah. Anak sekarang tumbuh dengan layar, pilihan takjil yang lebih beragam, dan distraksi yang lebih banyak. Namun esensinya tetap sama. Mereka sedang belajar mengenal lapar, menunda keinginan, dan memahami makna berbagi.
Dan Anda, yang pernah menjadi anak kecil di bulan puasa, punya modal besar untuk memahami itu. Setiap kali kesabaran hampir habis, ada memori masa kecil yang pelan-pelan mengingatkan: Anda pun dulu tidak selalu sempurna.
Mungkin di situlah Ramadan menemukan maknanya yang lain. Bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri untuk tidak menghakimi.
Di bulan yang sama, dua generasi sedang belajar. Anak belajar berpuasa. Dan Anda belajar menjadi orang tua yang lebih sabar.

