Yogyakarta (tutur.co.id)- Tak perlu cuti panjang untuk jalan-jalan. Dari Yogyakarta, Solo bisa dijangkau dalam hitungan jam—bahkan cukup sehari pulang-pergi menggunakan commuter line. Begitu kereta berhenti di Stasiun Solo Balapan, aroma kota ini langsung terasa: tenang, hangat, dan bersahabat. Terutama bagi mereka yang datang dengan satu niat utama-kulineran.
Area sekitar Stasiun Solo Balapan adalah pintu masuk yang ramah bagi wisatawan singkat. Tanpa harus naik kendaraan jauh, deretan kuliner legendaris dan warung rakyat sudah siap menyambut langkah pertama.
Pagi hari, nasi liwet Bu Tini menjadi pembuka yang pas. Sajian nasi gurih dengan suwiran ayam, labu siam, dan areh kental ini bukan sekadar sarapan, tapi pengantar suasana. Di Solo, pagi memang dimulai dengan pelan.
Jika Anda tiba di siang tanggung, bisa lamgsung santap brunch Sate Kambing Pak H. Kasdi depan stasiun. Perut aman dengan daging kambing muda pilihan.
Menjelang siang, pilihan kian beragam. Dari selat Solo di Selat Vien’s- hidangan khas yang memadukan pengaruh Eropa dan Jawa—hingga bakso Kadipolohangat yang kerap jadi penyelamat perut lapar. Semua terasa bersahaja, tanpa perlu embel-embel viral. Makanannya berbicara sendiri lewat rasa dan konsistensi.
Sore hari, kawasan Balapan masih hidup. Warung kopi dan rumah makan Jawa Djampi Jawi menjadi tempat singgah sebelum kembali ke stasiun. Di sinilah Solo menunjukkan karakternya: kota yang tidak tergesa, bahkan pada tamu yang hanya datang sebentar. Tak ada dorongan untuk buru-buru, meski jadwal kereta pulang sudah di tangan.
One day trip ke Solo dari Yogya mungkin singkat, tapi cukup untuk memahami satu hal: kota ini tak menuntut banyak. Datanglah dengan waktu seadanya, dan Solo akan mengisinya dengan rasa. Terutama rasa kenyang—dan sedikit rindu untuk kembali.

