Jakarta (tutur.co.id) — Pasar Surat Berharga Negara (SBN) memasuki pekan keempat Februari 2026 dalam tekanan volatilitas tinggi. Keputusan Moody’s Ratings mengubah outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif memicu peningkatan persepsi risiko, membuat yield SBN tenor 10 tahun tertahan di kisaran 6,38%–6,45%.
Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai kondisi tersebut mencerminkan pasar yang masih berada dalam fase konsolidasi di tengah tekanan arus keluar dana asing (outflow) sejak awal tahun.
“Yield yang bergerak stabil tetapi relatif tinggi mencerminkan bahwa pasar belum sepenuhnya pulih dari tekanan outflow. Investor masih mencermati efek perubahan outlook oleh Moody’s dan perkembangan arah suku bunga global, terutama ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve,” ujar Yusuf, Minggu (22/2/2026).
Lelang SUN Ditiadakan, Bukan Sinyal Lemahnya Permintaan
Terkait keputusan pemerintah meniadakan lelang Surat Utang Negara (SUN) pekan depan, Yusuf menegaskan langkah itu bukan indikasi melemahnya minat pasar, melainkan bagian dari strategi manajemen pembiayaan oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
“Ini bukan isu permintaan yang lemah. Pemerintah memang menerapkan jadwal penerbitan yang fleksibel untuk menjaga keseimbangan pasar, termasuk memberi jeda antara lelang reguler dan penerbitan SBN ritel. Pada lelang terakhir, realisasi penerbitan justru melampaui target indikatif,” ujarnya.
Menurut Yusuf, meskipun situasi pasar belum sepenuhnya kondusif, kondisi ini belum mengancam kesinambungan pembiayaan negara.
Peran Investor Domestik dan BI Krusial
Tekanan terhadap SBN dipengaruhi faktor global dan domestik. Suku bunga tinggi di negara maju membuat aset emerging markets kurang kompetitif. Di sisi lain, investor dalam negeri mencermati besarnya utang jatuh tempo serta kebutuhan pembiayaan defisit APBN tahun ini.
“Dalam kondisi ini, peran investor domestik dan stabilisasi pasar oleh Bank Indonesia sangat penting untuk mencegah volatilitas yang berlebihan,” kata Yusuf.
Meski permintaan jangka pendek cenderung moderat, ia memproyeksikan total penerbitan SBN pada 2026 tetap meningkat dibandingkan tahun lalu untuk kebutuhan refinancing.
“Jika tekanan global mereda dan suku bunga global mulai turun, yield SBN berpotensi menurun dan permintaan investor akan pulih secara bertahap. Secara fundamental, pasar SBN Indonesia masih memiliki daya tahan,” pungkasnya.

