Jakarta (Tutur.co.id) -Wakil Ketua Komisi V DPR RI Syaiful Huda kembali menggulirkan wacana pembatasan penggunaan sepeda motor untuk mudik jarak jauh pada Lebaran 2026. Langkah ini dinilai penting untuk menekan angka kecelakaan dengan fatalitas tinggi yang kerap memicu banyak korban jiwa.
“Dalam beberapa tahun terakhir kita melihat jika tingkat kemacetan selama arus mudik dan balik lebaran terus menurun. Tidak ada lagi kemacetan horor yang membuat pemudik berhari-hari di jalanan. Maka saat ini fokus stake holder terkait terutama Kementerian Perhubungan dan Korlantas Polri harus dialihkan pada strategi menekan angka kecelakaan dengan fatalitas tinggi yang dipicu penggunaan sepeda motor sebagai alat transportasi jarak jauh,” ujar Syaiful Huda, Minggu (22/2/2026).
Menurut Huda, berkurangnya kemacetan merupakan dampak positif dari pembangunan infrastruktur seperti Tol Trans Jawa dan Tol Sumatera, serta penerapan manajemen lalu lintas berbasis teknologi.
“Kita melihat kemajuan nyata. Strategi manajemen lalu lintas seperti kebijakan ganjil-genap, contraflow, hingga one way di jalur tol sangat membantu menurunkan potensi kemacetan. Solidnya koordinasi lintas sektoral membuat arus mudik jauh lebih lancar dalam beberapa tahun terakhir,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa persoalan kecelakaan masih menjadi rapor merah. Angka kecelakaan saat mudik disebut masih di kisaran 1.000 kejadian dengan ratusan korban jiwa, mayoritas terjadi di jalur arteri dan melibatkan sepeda motor.
“Lancar saja tidak cukup jika nyawa pemudik masih terancam. Fakta bahwa jalur arteri dan kendaraan roda dua mendominasi angka kecelakaan fatal menunjukkan adanya urgensi untuk intervensi kebijakan yang lebih berani,” tegas Politisi PKB tersebut.
Sebagai solusi, Huda meminta pemerintah menyiapkan strategi push and pull yang komprehensif, termasuk peningkatan razia serta penyediaan transportasi publik yang terjangkau dan aman.
“Pemerintah bisa meningkatkan razia penggunaan sepeda motor untuk mudik jarak jauh sekaligus memberikan solusi transportasi publik yang masif, terjangkau, dan aman bagi masyarakat kelas menengah ke bawah,” katanya.
Ia menegaskan, pembatasan dilakukan demi keselamatan. “Pembatasan mudik motor ini murni alasan kemanusiaan. Kita ingin menekan angka kecelakaan fatal yang sering kali mengorbankan kelompok rentan seperti ibu dan anak-anak yang terpaksa menempuh perjalanan jauh dengan roda dua,” pungkasnya.

