Jakarta (tutur.co.id) – Turnamen Ulamaliztli kembali digelar sebagai upaya menghidupkan olahraga tradisional Mesoamerika yang telah bertahan selama ribuan tahun. Permainan ini memiliki teknik khas, di mana pemain menggerakkan tubuh untuk memukul bola menggunakan pinggul, menjaga bola tetap bergerak sepanjang pertandingan tanpa bantuan tangan atau kaki.
Bagi para pelaku dan komunitasnya, ulama bukan sekadar olahraga, melainkan bagian dari identitas budaya dan warisan leluhur. Di tengah dominasi olahraga modern, turnamen ini menjadi simbol pelestarian tradisi sekaligus ruang inklusif, termasuk dengan semakin banyaknya partisipasi perempuan dalam menjaga keberlangsungan budaya tersebut.
