Jakarta (tutur.co.id)- Menjelang Ramadan, suasana di banyak negara Muslim berubah pelan-pelan. Ada yang ditandai bunyi tabuhan, ada yang dihiasi cahaya lentera, ada pula yang diramaikan pasar dan perayaan kecil di lingkungan keluarga. Jika di Indonesia kita mengenal munggahan atau nyadran, di belahan dunia lain pun ada cara khas untuk menyambut datangnya bulan suci.
Berikut 6 negara dengan tradisi uniknya.
Turki
Di Turki ada tradisi penabuh genderang sahur yang sudah ada sejak masa Kesultanan Ottoman. Menjelang fajar, para penabuh genderang ini akan berkeliling kampung sambil menyanyikan doa atau syair sederhana untuk membangunkan warga.
Meski kini alarm ponsel sudah menggantikan fungsi praktisnya, namun tradisi ini tetap dipertahankan. Bagi masyarakat setempat, suara genderang bukan sekadar penanda waktu, melainkan simbol kebersamaan dan warisan budaya yang hidup.
Maroko
Beranjak ke Maroko, ada sosok yang disebut Nafar. Ia mengenakan pakaian tradisional dan meniup terompet panjang saat waktu sahur mendekat. Nafar berjalan menyusuri jalanan sambil melantunkan doa. Kehadirannya memunculkan suasana spiritual yang khas. Di akhir Ramadan, warga biasanya memberi hadiah sebagai bentuk terima kasih atas dedikasinya membangunkan lingkungan setiap hari.
Mesir
Sementara itu di Mesir, suasana menjelang Ramadan identik dengan fanous, yaitu lentera warna-warni yang digantung di jalanan dan rumah-rumah. Tradisi ini sudah berlangsung sejak era Dinasti Fatimiyah. Anak-anak seringkali membawa lentera kecil tersebut sambil bernyanyi menyambut bulan suci Ramadan. Cahaya lentera fanous bukan hanya dekorasi, tetapi juga simbol harapan dan pencerahan batin saat memasuki Ramadan.
Pakistan
Di Pakistan, ada perayaan yang disebut Chaand Raat atau Malam Bulan. Begitu hilal terlihat dan Ramadan dipastikan tiba, pasar-pasar langsung ramai. Keluarga berbelanja kebutuhan, perempuan menghias tangan dengan henna, dan suasana terasa hangat sekaligus meriah. Chaand Raat menjadi momen transisi dari hari-hari biasa menuju bulan penuh ibadah.
Arab Saudi
Tradisi lain bisa ditemukan di Arab Saudi dan beberapa negara Timur Tengah yang menyalakan atau menembakkan meriam sebagai penanda waktu berbuka, dan di beberapa tempat juga sebagai tanda awal Ramadan. Tradisi ini bermula pada abad ke-19 ketika belum ada sistem pengeras suara. Hingga kini, suara meriam tetap dipertahankan sebagai bagian dari atmosfer Ramadan yang khas.
Tiongkok
Di Tiongkok, khususnya wilayah dengan komunitas Muslim seperti Xinjiang, Ramadan disambut dengan keramaian pasar malam khas. Hidangan roti naan, kebab, dan teh susu menjadi sajian yang mudah ditemui menjelang berbuka. Ramadan di sana terasa unik karena memadukan nilai-nilai Islam dengan budaya Asia Timur yang kuat.
Dari genderang hingga lentera, dari terompet hingga pasar malam, semua tradisi itu menunjukkan satu hal, momentum Ramadan bukan hanya peristiwa spiritual, tetapi juga sosial. Ramadan dirayakan bersama, ditandai bersama, dan diwariskan lintas generasi. Di mana pun Anda berada, semangat menyambut Ramadan selalu punya rasa yang sama hangat, penuh harap, dan sarat makna.

