Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir
  • Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran
  • Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet
  • Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?
  • Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah
  • BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal
  • Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli
  • Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Nasional»Tutur PoV: Pembubaran Paksa Nobar Film Pesta Babi, Jeritan Tanah Papua

Tutur PoV: Pembubaran Paksa Nobar Film Pesta Babi, Jeritan Tanah Papua

Nasional Toto Pribadi16 Mei 2026 / 20:29 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Tutur PoV bersama Don Bosco Selamun edisi pembubaran paksa nobar film Pesta Babi (Foto: Tutur)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) – Pembubaran paksa acara nonton bareng (nobar) Film Pesta Babi di beberapa daerah menjadi topik hangat di tengah masyarakat. Hal ini juga menjadi pilihan editorial dalam Tutur Point of View (PoV) edisi kedua.

Ya, pembubaran nobar film dokumenter karya Dandy Dwi Laksono dan Cypri Dale oleh aparat ini dianggap kembalinya gaya lama orde baru (orba). Negara seakan kembali berhak untuk menentukan apa yang boleh ditonton, dibicarakan bahkan hingga apa yang dipikirkan masyarakat.

Dalam podcast PoV Tutur yang dipandu oleh Gaib Maruto Sigit, Direktur Konten Tutur Media Digital, Don Bosco Selamun, memberikan pandangannya terkait tindakan aparat yang membubarkan nobar film tentang tanah papua yang ‘dirampas’ tersebut.

Film dokumenter ini memang menyoroti proyek food estate, pembukaan lahan sawit, dan bioetanol di Papua Selatan yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan membabat habis alam atau hutan adat Papua.

Bagi pemerintah, proyek ini disebut dengan ‘kamuflase’ atas nama pertahanan pangan dan energi. Namun bagi masyarakat Papua, khususnya di Malin, Tauyu, dan Muyu, proyek itu berarti hilangnya hutan adat, rusaknya sumber pangan tradisional, dan ancaman terhadap ruang hidup dan ekosistem mereka.

Menurut Don Bosco Selamun, aksi pembubaran atau pelarangan ini justru akan membuat gema film dokumenter ini semakin meluas. Terlebih dengan fakta bahwa saat ini banyak hutan di Papua yang dibabat habis dan tentu saja membuat tanah Papua ‘menjerit kesakitan’.

“Pelarangan ini justru membuat film ini menjadi sangat besar. Itu sangat instingtif. Kita ini makin dilarang makin orang cari tahu kenapa kok dilarang. Jadi makin ditekan semakin berisik,” kata Don Bosco Selamun.

Baca Juga  Rupiah Melemah Jelang Lebaran, BI Pastikan Stabilitas di Tengah Gejolak Global

Don Bosco Selamun menambahkan, cara negara merespon kritik bukan dengan dialog justru dengan pembatasan ini justru tidak akan efektif saat ini. Sejarah Indonesia juga telah membuktikan cara represif akan menjadi gunung salju yang justru akan memporak-porandakan tatanan bernegara.

“Jadi kritik tidak bisa dilihat sebagai ancaman. Menurut saya, kritik itu teman terbaik untuk berkaca untuk bercermin. Kita punya sejarah bagaimana kalau kekuasaan ini tidak lagi in power kita kan bisa lihat seperti apa publik memperlakukan penguasa-penguasa sebelumnya,” kata Don Bosco.

Don Bosco juga kembali menegaskan esensi dan pesan dari film dokumenter ini sejatinya karena kepedulian bangsa ini terhadap Papua. Dan larangan ini justru mengingatkan publik bahwa film ini betul-betul menjadi alaram sosial yang begitu masif.

Nah buat Kawan Tutur, untuk mengetahui lengkapnya pembahasan editorial redaksi dalam Tutur PoV bersama Don Bosco Selamun dapat menyaksikan langsung di Tutur TV.

Don Bosco Selamun film pesta babi headline nobar film pesta babi Tutur PoV (Point of View)
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleB Fashion Hotel Ditutup, Begini Alur Transaksi Narkoba Lewat Pramusaji
Next Article Guardiola Pastikan Manchester City Siap Hadapi Chelsea di Final Piala FA

Berita Lainnya

Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir

18 Juli 2026 / 15:06 WIB

Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran

18 Juli 2026 / 14:58 WIB

Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet

18 Juli 2026 / 14:19 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

Beberkan Kejanggalan Kasus Febrie, Hotman: Ada Sesuatu yang Dikejar

18 Juli 2026 / 10:03 WIB

Berikut daftar 8 lokasi Samsat Keliling di Wilayah Jabodetabek 18 Juli 2026

18 Juli 2026 / 09:19 WIB
Form Komentar Cancel Reply

KAI akan Berikan Kompensasi untuk Korban Tabrakan Kereta Bekasi Timur

Toto Pribadi28 April 2026 / 09:51 WIB

Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir

18 Juli 2026 / 15:06 WIB

Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran

18 Juli 2026 / 14:58 WIB

Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet

18 Juli 2026 / 14:19 WIB

Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?

18 Juli 2026 / 13:30 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.