Jakarta (tutur.co.id) – Direktur Eksekutif CERAH, Agung Budiono, menilai pertumbuhan PLTU captive yang melonjak hampir sepuluh kali lipat dalam sepuluh tahun harus menjadi alarm bagi komitmen transisi energi Indonesia.
Menurut Agung, pertumbuhan PLTU captive di luar kerangka dekarbonisasi sektor kelistrikan ini sangat disayangkan. Sebab, kondisi ini menciptakan paradoks di mana pembangunan PLTU terus difasilitasi di tengah komitmen transisi energi yang digaungkan pemerintah.
“Tanpa memasukkan pertumbuhan pembangkit off-grid (di luar jaringan PLN), upaya transisi energi Indonesia terasa pincang dan akan menjadi sia-sia,” ujar Agung dalam siaran pers, Jumat 22 Mei 2026.
Ia menegaskan pemerintah harus serius merapikan kebijakan energi agar seluruh dokumen yang dikeluarkan konsisten menuju target yang sama untuk keluar dari energi fosil.
“Jika dokumen yang tidak sesuai dibiarkan saja, maka Indonesia akan terjebak dalam carbon lock-in dan semakin sulit keluar dari ketergantungan energi fosil,” pungkas Agung.
Peringatan ini disampaikan di tengah fakta bahwa Indonesia menduduki peringkat ketiga terbesar untuk rencana penambahan PLTU, baik on-grid maupun captive, yang mencapai 11 GW, setelah Tiongkok dan India.
Padahal, di negara Asia Tenggara lainnya, kapasitas baru batu bara justru terus menurun selama tiga tahun berturut-turut. Bahkan gangguan pasokan gas pada awal 2026 pun tak mengubah tren penurunan tersebut.
Khusus PLTU captive, total kapasitas unit yang beroperasi di Indonesia telah tumbuh hampir sepuluh kali lipat. Angka ini bisa lebih besar lagi mengingat keterbatasan ketersediaan informasi.

