Jakarta (tutur.co.id) — Harga emas dunia anjlok tajam pada Selasa (3/3/2026), terseret penguatan dolar AS dan aksi ambil untung investor. Meski demikian, pelaku pasar menilai tren kenaikan logam mulia belum berakhir di tengah memanasnya konflik geopolitik dan risiko inflasi energi.
Mengutip laporan Reuters, indeks dolar AS melonjak 0,5% ke level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam itu terjadi seiring pasar meninjau ulang prospek pemangkasan suku bunga bank sentral global, terutama di negara-negara pengimpor minyak yang kini menghadapi lonjakan harga energi.
Kondisi tersebut menekan harga emas spot hingga sempat terjun ke kisaran US$4.996 per ons troi, level terendah sejak 20 Februari. Secara historis, emas memang menjadi aset lindung nilai saat ketidakpastian meningkat dan inflasi menguat. Namun, ketika dolar menguat agresif, harga emas biasanya terkoreksi karena menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Robert Gottlieb, mantan Kepala Logam Mulia di Koch Supply and Trading, menilai penurunan kali ini lebih didorong aksi profit taking. Menurutnya, investor yang telah menikmati kenaikan harga memilih mengurangi risiko, meski fundamental jangka panjang belum berubah.
Volatilitas tinggi sebelumnya juga membayangi pasar. Pada 29 Januari, emas sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$5.500 per ons sebelum terkoreksi tajam dalam dua sesi berikutnya. Sejak awal tahun lalu, harga emas telah melonjak signifikan, dipicu kekhawatiran atas reli panjang saham AS dan ketidakpastian global.
Di tengah koreksi, BNP Paribas justru menaikkan proyeksi rata-rata harga emas 2026 sebesar 27% menjadi sekitar US$5.620 per ons. Bank asal Prancis itu bahkan memperkirakan harga berpotensi menembus US$6.250 pada akhir 2026.
Pelaku pasar memperkirakan penurunan menuju area US$5.100 dapat memicu kembali permintaan fisik dari Asia. Aksi jual pekan ini dinilai lebih dalam karena sebelumnya terjadi pembelian besar menjelang eskalasi konflik udara AS–Israel terhadap Iran.
Tekanan dari Pasar Saham dan Obligasi
Tekanan tambahan datang dari koreksi di pasar saham dan obligasi pemerintah. Indeks S&P 500 tercatat turun hampir 1%. Dalam kondisi volatil, investor kerap melepas aset safe haven, termasuk emas, untuk memenuhi kebutuhan likuiditas atau margin call.
Kepala Riset BullionVault Adrian Ash menilai investor yang memegang emas sejak sebelum Tahun Baru kemungkinan memanfaatkan lonjakan harga untuk merealisasikan keuntungan, terutama saat pasar ekuitas bergejolak.
Meski dalam jangka pendek pergerakan emas dan saham bisa bergerak berlawanan secara tak terduga, secara historis emas cenderung menguat dalam horizon 12 bulan ketika pasar saham melemah dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam periode lima tahunan sejak 1970, emas juga tercatat selalu lebih tinggi ketika indeks saham utama AS mengalami penurunan pada periode yang sama.
Dengan ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi serta risiko inflasi akibat lonjakan harga energi, analis menilai koreksi emas saat ini lebih bersifat teknikal. Prospek jangka panjang logam mulia sebagai aset lindung nilai dinilai tetap solid.

