Jakarta (tutur.co.id) — Selama hampir empat dekade konsisten berada di garis depan industri film, Denzel Washington dikenal sebagai salah satu bintang film yang paling berdedikasi dan kreatif. Namun, karakter paling ikonis dalam kariernya justru lahir ketika ia berani tampil sebagai sosok yang sepenuhnya jahat.
Sejak penampilan terobosannya dalam Cry Freedom, jelas bahwa Washington akan menjadi aktor besar. Ia terus mengukuhkan statusnya sebagai idola layar lebar dengan menghadirkan realisme layaknya teater dalam setiap perannya, serta deretan karakter ikonis sejak awal kariernya.
Majalah Far Out melaporkan, selain meraih Piala Oscar untuk kategori Aktor Pendukung Terbaik melalui film Glory, Washington juga menuai pujian luas atas perannya sebagai Malcolm X dalam karya monumental Spike Lee. Ia kemudian memimpin sejumlah film bergenre besar seperti Crimson Tide dan Devil in a Blue Dress. Meski demikian, peran yang paling melekat di ingatan publik justru hadir ketika ia meninggalkan citra bersihnya dan memerankan salah satu penjahat terbesar dalam sejarah perfilman.
Berdasarkan naskah karya David Ayer, yang melakukan riset mendalam terhadap kepolisian Los Angeles modern, Training Day tampil sebagai sisi gelap dari formula film polisi berpasangan. Ethan Hawke berperan sebagai Jake Hoyt, anggota muda LAPD yang ditugaskan menjalani satu hari bekerja di bawah pengawasan Alonzo Harris.
Harris, yang diperankan Washington dengan penampilan yang nyaris tak dikenali, bukan hanya menjalankan konspirasi, tetapi juga menegakkan hukum secara brutal, sembari berusaha menyeret Hoyt ke dalam berbagai aktivitas kriminal ilegal.
Pemilihan Washington sebagai Harris dinilai jenius karena ia menguji sejauh mana karisma alaminya dapat membawa karakter tersebut. Penonton yang terbiasa memihak karakter yang ia perankan dibuat terkejut melihatnya tampil kejam dan menjijikkan, terutama ketika Hoyt berada dalam situasi yang semakin tak terkendali. Setiap kemungkinan bahwa Harris masih memiliki sisi simpatik sirna ketika ia melakukan pembunuhan berdarah dingin. Menjelang babak akhir Training Day, penonton bahkan mungkin berharap melihat karakter Washington tersebut tewas.
Adegan kematian Harris menjadi salah satu momen paling ikonis dan hingga kini disebut Washington sebagai adegan kematian terbaik yang pernah ia lakoni di layar. Meski ia juga mengungkapkan kebanggaan terhadap adegan kematiannya dalam Safe House, film thriller kriminal yang dibintanginya bersama Ryan Reynolds, Training Day jelas memiliki dampak budaya yang jauh lebih besar. Peran tersebut bahkan mengantarkan Washington meraih Oscar Aktor Terbaik, yang kala itu dianggap sebagai kejutan karena mengungguli Russell Crowe dalam A Beautiful Mind, pemenang Film Terbaik.
Washington telah berkali-kali digambarkan meninggal di layar lebar, termasuk dalam film Malcolm X, Roman J. Israel, Esq., dan The Tragedy of Macbeth. Namun, akhir kisah Training Day terasa berbeda karena penonton tak pernah tahu tipu daya apa lagi yang mungkin dimiliki Harris. Mengingat karakternya selalu mampu lolos dari jerat hukum tanpa konsekuensi, tokoh seperti Hoyt baru bisa merasa tenang ketika ia benar-benar telah mati.
Selain mengantarkannya pada berbagai penghargaan, Training Day juga menjadi film pertama Washington bersama sutradara Antoine Fuqua, yang kemudian menjadi salah satu kolaborator paling setianya. Meski sebelumnya tak pernah membintangi sekuel dari filmnya sendiri, Washington akhirnya tampil dalam ketiga seri The Equalizer, seluruhnya disutradarai oleh Fuqua.

