London (tutur.co.id) – Indonesia dan Inggris sepakat menjalin kerja sama bidang maritim dalam pembuatan kapal tangkap nelayan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut kalau kerja sama tersebut dapat menyerap hingga 600 ribu pekerja di Tanah Air.
Penguatan kerja sama maritim kedua negara itu menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan bilateral Presiden Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer di 10 Downing Street, London, Inggris.
“Kerja sama (maritim) dalam pembangunan 1.582 kapal nelayan. Yang menariknya, menurut Menteri Kelautan dan Perikanan akan mempekerjakan sekitar 600 ribu orang,” kata Seskab Teddy saat memberikan keterangan di Bandara London Stansted, Inggris, Rabu (21/1/2026).
Menurut Teddy Wijaya, Inggris menyepakati pembuatan kapal tangkap ikan untuk nelayan sebanyak 1.582 unit. Dari komitmen tersebut, setidaknya menyerap 30 ribu orang untuk menjadi awak kapal, 400 ribu orang untuk memproduksi atau merakit kapal di dalam negeri, serta 170 ribu orang dari efek multiplier.
“Karena nanti (kapal) diproduksinya, dirakitnya di Indonesia. Jadi 30 ribu sendiri itu untuk awak kapalnya, kemudian 400 ribu untuk yang memproduksinya, kemudian nanti ada 170 ribu itu dari multiplier effect-nya,” kata Teddy.
Kerja sama maritim yang dimaksud adalah Maritime Partnership Programme (MPP), di mana kedua negara berkomitmen mengembangkan kemampuan maritim Indonesia seperti peningkatan kapasitas angkatan laut dan pengadaan lebih dari 1.000 armada perikanan guna mendukung ketahanan pangan nasional.
Bagi Indonesia, kemitraan ini diharapkan mampu membuka peluang investasi baru di industri galangan kapal, membantu revitalisasi komunitas nelayan, serta memperkuat pertahanan dan keamanan maritim nasional.
Presiden Prabowo menyambut positif kerja sama maritim Indonesia–Inggris dan menilai kemitraan tersebut sebagai elemen penting dalam pengembangan ekonomi maritim Indonesia. Prabowo menilai kerja sama ini menjadi bagian penting bagi perkembangan ekonomi maritim Indonesia.

