Jakarta (tutur.co.id) — Nilai tukar rupiah kembali tertekan di awal pekan. Pada perdagangan Senin (6/4/2026), rupiah babak belur di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) hingga sempat menembus level psikologis Rp17.000.
Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS menguat sekitar 0,11% ke level Rp16.998 pada awal perdagangan. Tak lama berselang, mata uang Negeri Paman Sam tersebut menembus Rp17.009 pada pukul 09.18 WIB.
Padahal, pada penutupan perdagangan Kamis (2/4/2026), rupiah sempat berada di kisaran Rp17.002 per dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan tekanan eksternal yang kembali mendominasi pasar keuangan domestik.
Secara global, dolar AS juga menunjukkan penguatan terhadap sejumlah mata uang utama. Terhadap euro dan franc Swiss, dolar menguat tipis, sementara terhadap poundsterling dan dolar Australia penguatannya lebih signifikan. Meski demikian, dolar AS tercatat melemah terhadap yen Jepang dan dolar Kanada.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, sebelumnya telah memperkirakan bahwa rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah pada awal pekan ini.
“Untuk perdagangan Senin, mata uang rupiah diperkirakan fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.000–Rp17.040,” ujarnya.
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari sentimen global, khususnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kelanjutan serangan terhadap Iran, termasuk target energi dan minyak, memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Ketegangan tersebut juga meningkatkan risiko terhadap jalur perdagangan maritim strategis, yang pada akhirnya memperkuat sentimen risk off dan mendorong arus keluar modal dari pasar negara berkembang.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga datang dari kekhawatiran pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Lonjakan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan beban subsidi energi pemerintah.
Ibrahim mengungkapkan bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel dapat menambah beban defisit hingga Rp6 triliun. Dengan asumsi harga minyak bertahan di kisaran US$100 per barel, defisit APBN berpotensi melebar dari target awal 2,68% menjadi sekitar 2,9% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Meski demikian, ia menilai pemerintah masih memiliki ruang fiskal untuk mengantisipasi tekanan tersebut.
Dengan berbagai faktor tersebut, pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan masih akan dibayangi volatilitas tinggi, seiring ketidakpastian global yang belum mereda.

